Selasa, 27 Juli 2021

Pelatihan Menulis PGRI  Gelombang 19 dan 20

Resume ke-6     :  Jum’at,23 Juli 2021 pukul 19.00 WIB

Narasumber      : Aam Nur Hasanah,S.Pd

Gelombang       :19

Nama               : Sri Andayani

Asal sekolah    : SMPN 6 Sidoarjo





“Apapun keadaanmu tetaplah menulis karena di sanalah duniamu” (Sri Andayani)

Saya mencoba menulis resume ke-6 ini dengan semangat yang tersisa pada saya, walaupun saya tidak mengikuti kuliah ini secara langsung karena suatu sebab yang tidak bisa saya tinggalkan. 

Ketika saya menulis resume ke-6 ini saya juga masih belum menyelesaikan resume yang ke-4 dan ke-5. Saya memang ketinggalan materi kuliah ini beberapa kali dan rasanya saya sangat kehilangan momen berharga. 

Kenapa saya justru harus mendahulukan yang ke-6 dan bukan yang ke-5 atau Ke-4 sebelumnya? Alasannya sederhana saja, materi itulah yang tertangkap oleh saya ketika pertama saya membuka kelas menulis ini. Di situ sudah banyak link-link blog resume dari teman-teman peserta. Saya baca satu persatu dan saya berikan komen saya. Dari situ sedikitnya saya paham sedikit tentang materi pelatihan hari itu. Tetapi saya masih harus membaca materi seutuhnya agar saya lebih memahaminya.

Apa alasan saya sampai tertinggal beberapa kali pada kuliah menulis ini?  Alasannya sudah pasti bukan karena malas tetapi pada saat yang bersamaan saya sedang mengalami musibah. Ibu saya jatuh sakit dan saya harus merawatnya. Beliau adalah orang tua saya satu-satunya yang masih ada hingga seminggu yang lalu itu, tetapi hari ini beliau sudah meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Semoga Allah SWT menerima segala amalannya dan mengampuni semua dosanya. Saya masih berduka untuk itu. Semoga almarhumah kembali ke hadapan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa dengan tenang dan damai. 

Baiklah,sekarang saya menuliskan resume ke-5 materi kuliah tanggal 23 Juli 2021 yang bertema “Menulis Membuatku Naik Kelas dan Berprestasi.” Materi yang sangat sarat ilmu dan inspiratif ini dibawakan oleh seorang narasumber yang super hebat yakni ibu Aam Nur Hasanah,S.Pd, beliau adalah peserta pelatihan gelombang 8 yang juga Sang Juara 1 Lomba Blog PGRI Tingkat Nasional Maret 2021.

Acara malam itu dimoderatori oleh ibu Maesaroh, Sang blogger milenial. Beliau membagi acara menjadi 3 sesi, antara lain:

1.      Pembukan

2.      Penjabaran Materi(19.00-20.00)

3.      Tanya -jawab(20.00-21.00)

4.      Penutup (21.00-selesai)

Inilah awal mula perjalanan karier ibu Aam Nur Hasanah dari sebagai penulis, blogger,moderator, hingga menjadi editor.

Bukan berarti tanpa kegagalan. Seperti halnya pepatah yang mengatakan “Tak ada gading yang tak retak,” setiap orang memiliki kelemahan dan ibu Aam mengakui sendiri bahwa beliau mengalami kegagalan pada awal mula di pelatihan gelombang 8. Namun, kegagalan itu tidak lantas membuatnya patah semangat. Justru itulah yang memacu jiwanya untuk dapat berprestasi pada gelombang pelatihan berikutnya.

            Dan yang paling dirasakan sangat mempengaruhinya adalah dukungan dan dorongan motivasi dari para narasumber yang senantiasa melecutnya sehingga membuatnya terus bergerak maju. Buku Solo (Mengukir Mimpi Jadi Penulis) yang menjadi impiannya telah terbit. Itulah jalan muda bagi dirinya mulai terbuka. Impiannya untuk disebut sebagai penulis sudah tercapai.

Keberhasilannya ini memacunya untuk berkarya lagi dengan menerbitkan bukunya yang kedua yaitu”Kunci Sukses Menjadi Moderator Online.” Beliau memilih judul itu berdasarkan pengalamannya menjadi moderator di kelas pelatihan menulis online ini.Step by step berbagai peran beliau rangkul. Belaiu pandai memanfaatkan kondisi dan peluang, juga kemampuannya.Satu peran teraih lalu menginginkan peran lainnya. Itu syah-syah saja bahkan patut dijadikan tuladan bagi peserta lain yang membutuhkan motivasi untuk terus bangkit dan berkembang.

Akhirnya dari seorang penulis kemudian naik tingkat menjadi moderator lalu melecutnya menjadi seorang kurator lalu kesempatan menjadi seorang editor pun datang. Begitulah pada akhirnya jika Tuhan sudah membuka pintu rejeki dan kemudahan bagi hambahNya pastilah itu akan terjadi senyampang seorang itu memiliki keyakinan dan berusaha untuk mewujudkannya dengan hidayahNya.

Keberhasilan demi keberhsilan tidak lantas membuatnya pongah sebagai penulis dan enggan untuk menulis lagi.Tetapi perasaan miskin ilmu tetap dipegangnya kuat-kuat hingga baliau tidak ragu lagi untuk terus menimbah ilmu diberbagai kesempatan. Selain itu beliau juga mencoba mengukur kemampuannya di dalam event-event kepenulisan. Dan jerih payahnya itupun memberinya hasil. Dari sekian peserta di lomba blog HUT AISEI, beliau msuk 10 besar.Prestasi ini lebih mempresser dirinya untuk lebih giat lagi menulis di blognya hingga pada saat lomba blog yang diselenggarakan oleh PGRI beliau menjurai peringkat pertama. Sungguh suatu prestasi yang sangat luar biasa dan patut dijadikan suri tuladan bagi peserta atau guru lainnya.

Dari seorang blogger kemudian beliau melirik profesi lain yang tidak jauh dari dunia tulis menulis yaitu menjadi seorang editor, yang tugasnya yaitu mengedit calon buku karya orang lain.

Beberapa pertanyaan dari para peserta antara lain:

1.      Apa syarat yang harus dipenuhi sebgai seorang curator dan editor?

Jawabnya, seorang curator harus bisa mengajak peserta untuk membuat satu buku antologi, menampung naskah dari peserta,berkomunikasih dengan mereka dengan baik, dan bekerja sama dengan penerbit.

2.      Syarat utama menjadi editor:

Jawabnya:  Seorang editor haruslah menguasahi PUEBI, paham dengan fungsi tanda baca dan penggunaan huruf kapital.

3.      Bagaimana cara memupuk semangat?

Jawabnya: Untuk memupuk semangat yang mulai luntur beliau mencari sang inspirator dan motivator. Dan bagi beliau Om Jay dan Bu Kanjeng adalah orang-orang yang dimaksud.

4.      Pernakah merasa putus asa?

Jawabnya:Tentu saja beliau pernah putus asa tetapi beliau belajar dari teman

Beberapa tips yang penting dari beliau antara lain:

1.      Jika narasumber memberikan link blog peserta harus blog walking

2.      Berikan komentar ketika blog walking

3.      Jika narasumber memberikan PPT peserta harus menyimpulkannya

4.      Jika narasumber memberikan link youtube peserta harus mengunjunginya

5.      Berikan sentuhan pengalaman pribadi pada resume anda atau beri ayat al-qur’an untuk memberi motivasi

6.      Buatah skala prioritas jika mengalami berbagai hambatan

7.      Buatlah branding untuk diri sendiri sehingga anda mudah dikenali oleh orang lain

8.      Harus peka dengan lingkungan terdekat kita untuk mencari sumber-sumber ide penulisan

9.      Menulis sajalah tanpa memikirkan apa yang kita tulis itu bagus atau buruk. Kalau tidak segera dimulai kapan lagi karena menulis adalah proses dan harus dilatih.

10.  Jika sedang menulis novel tetapi mandeg berhenti dulu lanjutkan kelas menulisnya kalau sudah final baru dilanjut lagi

11.  Untuk menjadi penulis handal tulislah dari hal-hal yang paling sederhana missal tentang siswa, teman dsb

12.  Cara membuat konsistensi pada tulisan yang menggantung dengan membuat titik fokus, kerjakan satu dulu baru berikutnya, jangan semuanya justru terbengkalai. Jika kita sedang lelah rehat dulu, baca buku,istrahat cari inspirasi dengan nonton tv, googling, gabung di grup-grup menulis,dsb.

13.  Cara mengatasi benturan-benturan antara lain membenahi kesalahan-kesalahan sebelumnya. Mengurangi jenis antologi dan memperbanyak buku solo

14.  Waktu yang paling tepat untuk menulis adalah malam

15.  Buatlah resume dengan passion sendiri jangan menjiplak

16.  Menulislah dari hal-hal yang kecil terlebih dan sederhana terlebih dahulu

Pesan terakhir dari narasumber:

“Jadilah manusia yang bermanfaat bgi orang lain melalui tulisanmu”

#Pelatihan Menulis PGRI gelombang 19 dan 20

#Menulis di blog

#Menulis Bersama Om Jay

 

 

 

 

 




Pelatihan Menulis PGRI gelombang 19 dan 20

Resume ke-7 :  Menerbitkan Buku Menambah Gengsi Penulis

Oleh : Sri Andayani


Tema  Kuliah : Menerbitkan Buku Semakin  Muda di Penerbit Indi
Narasumber   : Raimundus Brian Prasetyawan,S.Pd. 
Moderator   : Ibu Aam Nur Syamsiah

Sekali lagi malam ini saya ketinggalan kelas belajar karena harus mempersiapkan malam tahlil dan pembacaan doa-doa bagi almarhumah ibuku. Namun aku berusaha mengejar ketertinggalanku dan mencoba mengerjakan tugas yakni meresume materi pelatihan yang ke-7 ini, walaupun sebenarnya resume ke-6 masih belum saya selesaikan karena terkendala waktu untuk membaca materi pelatihannya, dan juga kesibukanku mengajar, sehingga resume itu  masih berupa draft penulisan. 

Mengapa saya mengerjakan yang ke-7 ini  terlebih dahulu alasannya agar saya tidak susah mencari materinya sehingga bisa langsung meresumenya sedangkan materi resume yang ke-6, ke-5 dan ke-4 belum dan insyah Allah akan saja kerjakan kemudian. Saya masih kesulitan mnemukan materinya karena harus mengeshrol dari atas. 

Sebenarnya dari WB dan membaca resume dari teman-teman sesama peserta saya bisa memahami tentang tema pelatihannya, tetapi sebagai penulis tidaklah etis menulis tanpa mengetahui sumber penulisannya yang nantinya hasil tulisan saya mungkin bisa tidak valid dan melenceng dari tema atau bahkan bisa dianggap menjiplak karya dari orang lain. Sebab kita tahu bahwa  riset adalah langkah awal sebelum menulis. Melakukan riset bagi penulis sangatlah penting, yakni penulis melakukan penelitian atau melihat, mendengar langsung atau tidak langsung pada objek yang akan ditulis. Sedangkan pada pelatihan ini objeknya adalah materi yang dibawakan oleh narasumber, sebagai bahan pembuatan pelaporan atau resume.

Kali ini tema yang diambil yaitu "Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indi. Narasumbernya adalah Mas Raimundus Brian Prasetyawan,S.Pd. Saya panggil mas karena  dilihat dari profilnya masih sangat muda.  Dari perkenalan yang disampaikan oleh Om Jay selaku pembuka acara, diketahui bahwa beliau adalah seorang guru muda dari Bekasi dengan berjuta prestasi yang mendapat julukan guru mileneal. 

Kuliah malam itu dimoderatori oleh ibu Aam yang sudah kita kenal sebelumnya yaitu peserta dari gelombang 8 yang dipercaya Om Jay karena segudang prestasinya dalam karya tulis menulis hingga mampu  menerbitkan segudang buku dari hasil pelatihan menulis ini. Tak lupa saya cuplik pesan Om Jay pada para peserta pelatihan sebagai penyemangat yaitu " Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa Yang Terjadi". Dari Pesan ini seolah-olah kita ditantang untuk terus berani menulis dalam kondisi apapun hingga sesuatu keajaiban terjadi  dan  datang pada diri kita. Sebagai penulis sejati kita harus meyakini itu." Terima kasih saya ucapkan pada Om Jay selaku ketua dan pemilik acara ini yang tidak henti-hentinya memotivsi para peserta pelatihan menulis ini. 

         Selanjutnya ibu Aam memulai memandu  acara dengan mendoakan pada para peserta pelatihan agar selalu bersyukur pada Allah atas kelimpahan rahmatNya hingga bisa mengikuti pelatihan dengan kondisi sehat walafiat.  Dengan bekal nikmat itu diharapkan para peserta bisa memfokuskan diri mengikuti pelatihan hingga materi berkhir. Kemudian ibu Aam mempersilahkan Mas Brian yang juga di kenal sebagai pendiri komunitas Cakrawala Blogger Guru Nasional(Lagerunal) ini sebagai Narasumber untuk memaparkan materi kuliahnya. 

            Apakah motivasi penulis  bergabung dalam  pelatihan menulis ini? Tentu saja menghasilkan buku. Tetapi bisakah? Bagi penulis pemula mungkin itu sesuatu yang sangat mustahil. Ya, dulu saya juga merasakannya pada awal-awal belajar menulis, saya merasa itu tidaklah mungkin. Masak sih saya bisa?  Bagaimana caranya?  Itulah yang ada di benak saya. Karena dalam pikiran saya sangatlah mustahil untuk menembus penerbit mayor, misal saja Gramedia, Grafindo, Balai Pustaka,dsb. Selain saya tidak memiliki kenalan dari orang yang berkecimpung di penerbit tersebut, pengetahuan tentang cara menerbitkan di penerbit mayor masih sangat minim. 

    Dan seperti yang dijelaskan oleh Mas Brian bahwa jalan termuda bagi seorang penulis pemula untuk menerbitkan buku adalah melalui penerbit indi.  Penerbit indi di sini fungsinya sebagai angin segar bagi penulis karena penulis akan merasa ada wahana bagi dia untuk untuk mewujudkan karyanya sebagai artefak budaya(meminjam istilah bapak M.Khoiri).        

                Apakah buku merupakan prestasi tertinggi penulis?        

       Tentu saja pencapaian tertinggi dari seorang penulis adalah jika ia mampu menerbitkan sebuah buku. dan keinginan itulah yang akan memberinya motivasi untuk menulis dan menulis lagi hingga  memacu dirinya untuk  belajar lagi yang lebih tinggi. Ada tantangan pada diri penulis untuk mencari tahu lebih banyak tentang dunia tulis menulis.  Maka penulis akan mencari seseorang atau tempat yang bisa menampung atau menanggapi keingintahuannya itu. 

            Rasa haus akan ilmu tulis menulis akan menuntunnya ke arah pencarian jati diri. Maka mengikuti kelas-kelas pelatihan menulis adalah sangat tepat bagi penulis terutama yang masih pemula dalam dunia kepenulisan.Tidak hanya satu komunitas bahkan lebih. Ia akan terus mencari komunitas yang sejalan dengan keinginannya. Menemukan komunitas menulis yang sesuai dengan genrenya adalah suatu keuntungan bagi penulis.Di komunitas ini penulis  akan saling mendukung, saling memberi semangat dan motivasi untuk maju dan menghasilkan karya.Pastilah ia betah dan akan merasa telah menemukan dunianya.  Dia akan bertahan dan terus bergabung hingga tercapai apa yang ditargetkannya, yaitu menerbitkan buku

      Contohnya saya, di kelas menulis asuhan Om Jay ini saya seakan menemukan komunitas menulis yang sejalan dengan genre saya. Para peserta yang sebagian besar adalah guru seperti halnya saya memiliki kecenderungan untuk menulis non fiksi seperti walaupun ada juga yang menulis fiksi. Tetapi pengetahuan saya untuk non fiksi  masih kurang. Di kelas ini banyak ilmu dan ide-ide yang saya dapat baik dari pemateri maupun dari sesama peserta. Karena itu saya merasa menemukan dunia saya. Saya ingin berkembang lagi setelah mengikuti pelatihan ini. Sudah banyak contoh keberhasilan dari para peserta di pelatihan ini. Banyak yang menghasilkan bukunya sendiri bahkan ada yang puluhan jumlahnya. Demikian juga saya, yang berkeinginan untuk memiliki buku non fiksi bidang kependidikan.

            Bisakah saya menembus ke penerbit mayor? Itu suatu pertanyaan yang penuh tantangan bagi saya. Sebagaiman kita tahu bahwa sangatlah susah menembusnya, selain jenis tulisan harus sesuai dengan keinginan penerbit, biasanya setiap penerbit memiliki gaya selingkung sendiri. Selain itu,naskah yang kita kirimkan terkadang sampai berbulan-bulan baru ada kabar kalau diterima atau ditolak dan pekerjaan menunggu lama ini kadang membuat kita patah semangat. Terkadang kita merasa kalau naskah kita tidak layak untuk dijual. Mengapa ini terjadi? Hal ini patut dimaklumi karena penerbit mayor membutuhkan naskah yang benar-benar memiliki nilai jual sebelum dilempar ke pasar karena itu seleksinya sangat ketat. 

        Bagaimana dengan royaltinya ? Ada dua pola dalam pembagian royalti yaitu pertama penerbit membeli Hak paten dan hak cipta seluruhnya atau membaginya dengan pihak penulis.Dan perhitungannya dihitung dalam jangka waktu tertentu melalui suatu perjanjian antara pihak penulis dengan pihak penerbit. Dari penjelasan yang saya terima penulis akan memperolah royalti sebanyak 5% sampai10% dari hasil penjualan.  Biasanya penulis akan mendapatkan royalty dari penerbit setiap 3 atau 6 bulan sekali.  Semakin banyak buku yang terjual maka semakin banyak royalty yang dia peroleh. Selain itu masih ada pemotongan pajak  ppn dan penulis.

        Apakah keuntungan dari menerbitkan buku di penerbit mayor?  Tentu saja ada segi untungnya untuk menerbitkan di penerbit mayor. Yang pertama adalah kita tidak perlu mengeluarkan ongkos cetak sampai penerbitannya. Biaya sepenuhnya ditanggung oleh pihak penerbit. Yang kedua penulis tidak perlu lagi mempromosikan bukunya karena pihak penerbit biasanya yang melakukannya bahkan biasanya besar-besaran apalagi kalau itu penerbit besar. Jadi penulis tinggal menunggu hasil penjualan bukunya saja. Yang ketiga, penerbit biaasanya mencetak buku dalam jumlah besar minimal 1000 cetak sehingga semakin banyak buku yang dicetak semakin banyak pula royaty yang didapat.Keempat, bila buku kita sudah dipercaya oleh pihak penerbit mayor maka biasanya kelas kita sebagai penulis juga bertambah naik nilainya rapotnya. Karena itu bagi setiap penulis merupakan suatu impian yang menjadi nyata kalau bukunya bisa diterbitkan oleh penerbit mayor.

        Lalu apakah penerbit indi kurang memiliki gengsi? Pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Penerbit indi ibarat angin penyejuk bagi penulis pemula. karena penulis akan dengan mudah menerbitkan bukunya. Asalkan dia harus rela membayar sejumlah uang untuk mengganti biaya pracetak, cover, lay out, editing, dsb. Waktu penerbitanpun tidak lama hanya sekitar satu bulan buku sudah terbit dan ber-ISBN. Tetapi penulis harus pandai-pandai mempromosikan bukunya sendiri. 

    Nah dari buku pertamanya itulah yang akan memacu semangatnya untuk menulis lebih baik lagi lalu menerbitkannya di penerbit mayor. Sekali lagi bagi seorang penulis, menerbitka buku di penerbit mayor lebih memiLiki gengsi dibanding menerbitkan buku di penerbit Indi.

"Menulislah dan buatlah hidupmu berharga dengan tulisanmu"(Sri Andayani)

#Pelatihan Menulis PGRI

#Menulis bareng Om Jay

#Menulis bersama Guru Blogger milenia

 


Jumat, 16 Juli 2021

 

Resume ke 3 

Pelatihan Menulis Gelombang 19 & 20

“Membongkar Rahasia Menulis Hingga Menerbitkan Buku”

Oleh Sri Andayani


            Malam yang  saya tunggu telah tiba. Seperti yang sudah di sepakati bersama bahwa kelas menulis berikutnya adalah hari ini. Aku senang sekali bisa berjumpa lewat daring dengan teman-teman sesama penulis di sini. Aku bisa belajar banyak dari mereka.

            Kali ini kelas akan dipandu oleh seorang narasumber yang berpengalaman di dunia tulis menulis. Bukan hanya itu beliau adalah seorang multitalenta yang memiliki segudang prestasi kejuaraan dan pengalaman yang patut dijadikan teladan bagi peserta lainnya. Beliau seorang guru, operator,curator,moderator juga seorang blogger. Itu saya temukan pada biografi beliau.

Siapakah dia? Beliau adalah  seorang bloggerwati yang  multitalenta, ibu Rita  Wati dari Bali  kelahiran Tanjung Pinang. Beliau berdarah Minang. Kita semua tahu bahwa tanah minang adalah gudangnya para sastrawan dan sastrawati dan beliau adalah termasuk salah satunya.

Membaca  adalah hobinya sejak kecil itulah bekal utama kecintaannya pada buku hingga hobinya itu juga yang akan mengantarkannya menjadi penulis hebat. .   Malam ini kelas di moderator oleh bapak Bambang dari Bandung. Dengan gayanya yang  semanak  bapak bambang mengingatkan kepada semua peserta agar selalu bersemangat  dan tersenyum mengikuti pelatihan ini agar imun    bertambah hingga tubuh tetap sehat dan kuat.

Memulai paparannya, ibu Rita membongkar kisah awal-mula ia menjadi penulis. Menurut beliau sebenarnya keinginan menulis sudah terpendam lama sejak muda tetapi belum ada kesempatan bagi dirinya untuk memulai menulis.  Sembari  membaca paparannya, hati saya berkata bahwa kisah ibu Rita itu sama serupa dengan  yang saya alami.  

Keinginan menulis tersebut pada akhirnya menemukan saluran yaitu dengan cara  beliau menuliskan apa saja yang terlintas di benaknya. Hingga dari coretan-coretan itu lahirlah sebuah cerpen. Satu berhasil dan diteruskan dengan karya coretan lainnya hingga tidak terasa telah tercipta beberapa cerpen, lalu dilanjutkan hingga menulis sebuah novel.

Sungguh sesuatu yang patut di banggakan. Dari sesuatu yang awalnya coretan dari hati hingga menjadi sebuah karya sungguh hal itu merupakan bakat yang terpendam yang telah menemukan kanalnya. Walaupun pada mulanya ada tarik ulur keraguan dalam hatinya, antara rasa percaya diri kalau-kalau karyanya itu layak atau tidak layak di sebut sebagai karya tulis.

Menurut saya, perasaan seperti itu lumrah dialami oleh penulis pemula. Saya juga pernah mengalaminya. Sampai sekarang pun, saya masih belum percaya diri kalau ada teman-teman menyebut saya  sebagai penulis. Dengan rendaah hati saya  bilang pada mereka  bahw saya bukanlah penulis, Saya  hanya  sedang belajar menulis.

Sejak mengikuti kelas menulis inilah rasa percaya diri ibu Rita dibangun. Dengan semangatnya yang luar biasa beliau mengumpulkan tugasnya dengan cepat hingga mendapatkan perhatin dari pemilik kelas, apalagi dari tulisannya  di blog banyak yang memberinya komentar,hal ini sangat memberikan rasa percaya dirinya sebagai penulis. Bahwa hasil tulisannya diakui oleh orang lain apalagi oleh penulis yang sudah memiliki nama, itu cukup meningkatkan harkat dirinya sebagai penulis. 

Itulah awal mulanya tonggak keberhasilannya. Sejak itu beliau sangat menggebu-gebu mengikuti pelatihan hingga selesai.

Selain itu, disela-sela waktunya beliau juga menyempatkan diri  menjadi seorang you tuber dengan seringnya memposting hasil karya digitalnya di media youtube. Selain itu buku-buku karya nya juga sudah banyak. Tulisannya di blog juga keren-keren. sungguh seorang yang multitalenta,  

Yang terakhir dari paparan beliau adalah pesannya pada para peserta yaitu  bagaimana caranya menulis resume yang menarik. Beliu memiliki trik tersendiri anatara lain beliau selalu mengembangkan resume dengan bahasanya sendiri  sesuai dengan gayanya. Kemudian beliau menuliskan kalimat pembuka dan penutup yang memberi kesan tersendiri pada para pembaca.

“ Pengalaman hidup yang akan membentukmu, apakah kamu menjadi orang sukses ataukah orang yang biasa saja, kamu pilih yang mana?”

# Kelas menulis

#Menulis di blog

 

 

Kamis, 15 Juli 2021

 

Resume menulis ke-2

Kelas Belajar Menulis Pertemuan ke-2 Gelombang 19 dan 20 Rabu 14 Juli 2021

Jauhilah Plagiarisme

Sri Andayani

            Alhamdulillah saya pada akhirnya bisa menuliskan resume belajar menulis bersama Kelas Menulis  PGRI asuhan Bapak Wijaya Kusuma atau Om Jay. Saya tidak bisa mengikuti sesi ke-2 ini langsung  karena tiba-tiba badan saya merasa sangat capek lalu tiba-tiba saja saya tertidur padahal saya sudah menunggu kelas belajar ini dari awal.

Tetapi syukurlah materinya ditulis di WA sehingga saya bisa mengikuti pelajaran keesokan harinya dan mempelajari  materinya. Pada sesi ke-2 kali ini dibawakan oleh seorang Narasumber handal yakni Ibu May dari lebak Banten. Beliau adalah mantan peserta menulis pada gelombang 18 di kelas menulis ini.

            Malam ini yang bertindak sebagai moderator adalah seorang ibu yang mengaku sebagai NELI dari Banda Aceh, ibu Rita Wati. Ibu Rita membuka kelas dengan ucapan syukur kepada Allah dan kepada Nabi Muhmmad karena atas berkatNyalah dan atas bimbingan Nabilah kita semua bisa berkumpul dalam satu forum belajar menulis secara daring dalam kondisi sehat walafiat. Karena petunjuk nabilah bahwa kita semua di beri keluasan hati untuk terus mencari ilmu bagi kemaslahatan hudup kita dan juga orang lain. Lalu ibu Rita mengajak kita semua berdoa agar kita semua mendapatkan petunjuk dan kemudaan pemahaman dari Allah SWT.

            Kelas ini di bagi menjadi 3 sesi, antara lain: sesi pebukaan, paparan narasumber, tanya jawab dan penutup. Materi yang di sampaikan oleh ibu Maesaroh,M.Pd adalah “Trik Cepat Menulis Resume di Blog”.Ibu Mae demikian panggilan untuk ibu Maesaroh adalah Wanita ayu kelahiran Lebak Banten. Beliau adalah seorang guru pendidik di SMPN 1 Lebak Banten. Beliau merupakan salah satu peserta berprestasi pada Kelas Belajar Menulis Gelombang 18. Kepiawaiannya dan Semangatnya dalam menulis memang patut di acungi jempol. Ibu Mae selalu menjadi yang tercepat dalam pengumpulan tugas resume di setiap sesi belajar menulis. Beliau dijuluki seorang blogger Milenia karena kepiawiannya menulis di blog.

            Dengan rendah hati ibu Mae menceritakan awal mulanya dia sebagai peserta kelas menulis hingga dipercaya sebagai seorang narasumber. Berawal dari pengalamannya menulis tesis dan seringnya kemampuan itu digunakan untuk membantu teman-temannya hingga lama kelamanan menjadi suatu kebiasaan menulis, yang membuatnya menjadi seorang yang sangat handal. Pengalaman yang patut dicatat dan diteladani adalah kecepatan dalam menulis resume.

 Kesungguhan dan fokus sangat penting dalam belajar. Dalam paparannya beliau menceritakan pengalaman belajarnya antar lain,beliau selalu menyimak dengan sungguh-sungguh ketika narasumber memaparkan materi dan  berusaha memahami sambil memberikann catatan rangkuman, menyimpulkan isi  dan kemudian menuliskannya dengan gaya penulisan sendiri yang  menarik. Sehingga ketika narasumber selesai memberikan materi beliaupun juga selesai menuliskan resumenya. Sungguh kemampuan yang sangat luar biasa.

 Kebiasaannya itupun memberinya hasil,pada pertemuan ke 22. Menurut beliau, dalam waktu 2 hari sudah bisa membuat buku solo yang beliau beri judul “Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial” sungguh-sungguh suatu prestasi yang hebat sekali. Menerbitkan sebuah buku merupkan sebuah prestasi dan keberhasilan bagi setiap penulis. Sehingga beliau dinyatakan lulus pada pertemuan ke-23.

Satu hal yang paling menohok saya adalah kata-kata beliau yang terakhir sebagai penutup sekaligus pesannya yaitu jangan sekali-kali menjadi plagiator karena itu pekerjaan yang sangat memalukan bagi seorang penulis, apalagi kalau tulisannya itu dipublikasikan. Selain harus berhadapan dengan masalah hukum jika si pemilik tulisan asli menuntut,kita juga tidak akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain atau pembaca. Sebaliknya pembaca adalah orang yang paling kita layanii karena dari merekah adanya pengakuan tulisan kita. Maka seyogyanya kita memberikan sajian tulisan yang layak bahkan indah untuk mereka.

Memang sulit pada awalnya untuk menulis. Dan sebagai awal-awal kita belajar menulis adalah kita belajar dari tulisan orang lain. Kita bahkan disarankan untuk banyak  membaca  hasil karya tulis para penulis  kelas wahid sehingga kita bisa belajar dari mereka. Banyak ide-ide dan gaya penulisan yang berbeda diantara mereka .Tetapi itu bukan berarti kita menjiplak. Kita bisa meramu ide-ide itu  lalu memodifikasinya  dengan  gaya penulisan yang kita miliki. Sehingga akan membentuk gaya tulisan tersendiri bagi kita yang menjadi ciri khas kita.

Hal lain yang patut di acungi jempol dari beliau adalah semangatnya dalam menulis hingga dalam waktu singkat yakni 6 bulan sudah menghasilkan beberapa buku. Sungguh suatu prestasi yang patut dibanggakan.

Bagaimana caranya menulis resume dengan cepat? Dengan ringkas ibu Mae membuka rahasia tentang trik-triknya menuis resume cepat paada blognya, anatara lain:

1.      Menyiapkan gawai dan laptop   

2.   Menyiapkn mental belajar dan membuat pemikiran positif bahwa resume tercepat itulah yang akan menarik pembaca

3.      Menulis dengan Bahasa yang menarik

4.      Menambahkan referensi / kutipan dari tokohlain

5.      Meramu tulisan dengan bahasa yang khas

6.      Meberi kutipan

7.      Meberikan narasi pembuka dan penutup

8.      Tulisan dalam paragraf pendek-pendek dan mudah dipahami

 

Sebagai pesan terakhir dari paparannya,ibu Mae memberi motivasi pada kita untuk menjadi yang tercepat dalam menyelesaikan tugas dan menjadi yang terbaik. Satu lagi pesannya yaitu menulislah dengan penuh keyakinan di blog. Jadikan menulis sebagai kebiasanmu maka menulislah setiap hari. Jadilah seorang agen perubahan melalui tulisan tetapi jauhilah plagiarime karena itu merupakan kejahatan dalam kepenulisan.

#Kelas Menulis PGRI

#Menulis Resume di Blog

#Pelatihan Menulis Gelombag 19 & 20

 

Selasa, 13 Juli 2021

                                            

                                           

                                              Pelatihan Belajar Menulis Gelombang 19 & 20

Resume ke 1: Writer’s block

Sri Andayani

Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh.

Alhamdulillah saya bersyukur sekali pada Allah SWT yang memperkenankan saya menuliskan resume pelatihan menulis gelombang 19 & 20  asuhan  Baapak Wijaya Kusuma Atau biasa dipanggil Om Jay oleh rekan-rekan sesama penulis maupun calon penulis. Dalam kesempitan waktu antara mengajar dan belajar menulis ini, saya menyempatkan mengikuti pelatihan menulis  yang rencananya hingga 20 pertemuan atau bahkan  ada tambahan waktu hingga 30 pertemuan. Mudah-mudahan saya bisa mengikutinya dengan rutin.                                                         

Pada pertemuan pertama ini kelas diisi oleh seorang narasumber beken dari kota Solo yaitu ibu Sri Sugiastuti atau biasa di sapa dengan sebutan Ibu Kanjeng dari Keraton Solo.  Beliau adalah seorang inspirator, kurator, motivator juga seorang editor.Kegiatan ini dimoderatori oleh seorang ibu yang sangat lincah dan piawai dalam memandu  jalannya pelatihan  ini, yaitu ibu Aam dari Lebak Banten. Beliau adalah juga dulunya peserta pelatihan gelombang  sebelumnya Acara dibuka dengan  doa Bersama .

Kelas belajar ini dibagi menjadi 3 sesi antara lain: sesi pembukaaan, sesi materi dan tanya jawab. Ibu Kanjeng malam ini mengambil tema: Jadikan Menulis Sebagai Passion. Dari melihat judulnya saja sudah sangat menarik. Menulis sebagai Passion? Wow, sungguh membuat saya ingin tahu lebih lanjut. Kenapa demikian? Ini berhubungan dengan kondisi pribadi saya. Saya sebenarnya suka menulis. Saya sering ikut pelatihan-pelatihan menulis dari banyak kelas. Buku-buku saya juga sudah lumayan banyak, berupa beberapa karya solo maupun banyak antologi. Tetapi meski demikian saya merasa masih kurang ilmu dan salah satu kekurangan saya adalah saya sedikit kurang passion atau gairah dalam menulis. Bukan karena malas. Tetapi saya kadang-kadang mengalami writer’s block. Yaitu kemacetan dalam menulis. Saya seperti kurang ide atau kalau sudah punya saya seperti bingung apa yang akan saya lanjutkan,hingga akhirnya tulisan saya tinggalkan, macet. 

Pembahasan Ibu kanjeng sangat tepat dengan kondisi saya,sehingga setidaknya mampu menjawab sedikitnya permasalahan saya. Karena itu saya sangat berterima kasih. Benar apa kata ibu kanjeng bahwa segala bentuk hambatan itu sebenarnya adalah datang dari dalam diri kita sendiri. Kita banyak mendapat  pemahaman dari orang lain, para pakar menulis, para narasumber yang berpengalaman, tetapi semuanya akan Kembali pada diri kita sendiri, motivasi dan semangat kita untuk tetap berkomitmen dalam menulis. Karena itu menurut ibu Kanjeng harus ada alasan bagi kita untuk menulis, sebagai motivasi diri kita, misalnya orientasi material,eksistensial,personal, sosial ,juga spiritual.

Bagaimana agar seseorang bisa mewujudkan impiannya untuk menghasilkan karya sendiri berupa buku? Tentu saja ada beberapa cara menurut ibu Kanjeng antara lain:  banyak membaca berbagai buku baik cetak maupun e book, mengikuti tulisan-tulisan di medsos hingga kita tahu kemauan pasar, berdiskusi dengan sesama penulis baik secara langsung mupun lewat buku karyanya sehingga kita akan menemukan ide-ide baru dari ide orang lain walaupun itu bukan menjilak tetapi mungkin berupa modifikasi dari karya kita.

Yang tak kalah penting adalah membangun masyarakat sosial yang terdiri dari para penulis hingga kita menemukan teman yang akan mensupport dan memberikan kritik dan saran pada kita supaya tulisan kita menjadi lebih baik. Masyarakat penulis ini bisa berupa komunitas-komunitas penulis atau kelas-kelas pelatihan menulis sebagai sarana kita untuk berani  menampilkan karya kita sekaligus unjuk kebolehan menulis di arena sesama penulis. Ini akan sangat bagus bagi penulis untuk kualitas dan kemajuan kepenulisannya sekaligus juga sebagai tempat untuk ajang promosi buku karyanya.

Menulis merupakan proses belajar. Tentu saja membutuhkan waktu, tidak serta merta jadi. Apa saja persiapan-persiapan kita sebelum menulis? Dalam paparannya ibu Kanjeng memberikan gambaran pada kita beberapa cara ,antara lain:

·         Menggali dan menemukan gagasan: Untuk menemukan gagasan tidaklah muda, penulis harus melakukan pengamatan,riset,maupun baca kajian  Pustaka. Tetapi kadang gagasan akan muncul secara tiba-tiba atau bahkan berasal dari orang lain, seperti misalnya saat Om Jay melemparkan gambar buah Pisang lalu meminta siapa saja menulis apa saja tentang pisang.

·         Menentukan tujuan: Menentukan tujuan sangat penting agar apa yang kita tulis berhasil, harus ada target apakah tulisan kita berupa fiksi atau non fiksi, target pembaca kita siapa usianya berapa dan sebagainya.

·         Menentukan topik: Menentukan topik sangat penting karena akan memfokuskan arah tulisan kita ,apakah bertopik Kesehatan,pendidikn, anak inklusi , dan sebagainya.

·         Membuat outline:  Untuk mempermudah kepenulisan,kita buat kerangkanya dulu, berapa bagian, tiap bagian membahas apa.

·         Mengumpulkan bahan/materi/buku sumber: Banyak-banyak membaca, membaca apasaja, baik buku atau kondisi masyarakat.

·          Dan yang terakhir sekaligus pesan dari Ibu Kanjeng adalah mulailah menulis,menulis ,dan menulis, dan jadikan buku.

 


Senin, 20 April 2020

Aku Cinta Bahasa Indonesia

Mendunia dengan Bahasa Indonesia. Mungkinkah?

 Oleh: Sri Andayani,S.Pd

Di benak saya, ada pemikiran kalau bahasa Indonesia akan mampu mendunia di abad milenia ini. Apakah itu mungkin? Sebagian orang ada yang ragu dengan kemungkinan itu, ada yang merespon biasa saja, tetapi ada juga yang merasa optimis, dan saya termasuk salah satunya. Saya pernah membaca pendapat serupa di sebuah artikel koran ketika masih kuliah sekitar tahun 1990-an. Dalam kurun waktu hingga sekarang, saya melihat sudah banyak perkembangan. Banyak fakta yang membuktikan kalau bahasa Indonesia sudah merambah dunia Internasional saat ini. Banyak orang luar negeri yang berbondong-bondong mempelajarinya untuk berbagai keperluan dan alasan. Sebelum kita bahas lebih jauh, mari kita bahas definisi tentang makna kata mendunia. Apa kriteria mendunia di sini? Mendunia artinya menuju dunia luas atau go international (Kamus Bahasa Baku Indonesia). Itu berarti bahwa Bahasa Indonesia akan digunakan di forum-forum resmi maupun tidak resmi di tingkat internasional. Dengan kata lain, akan ada banyak negara di dunia yang aktif mengunakannya untuk keperluan komunikasi antar negara. Segala keperluan baik ekonomi, bisnis, budaya, serta hubungan sosial antar masyarakat di dunia akan mempergunakan bahasa kebanggaan bangsa Indonesia itu. Saya merasa sangat bangga seandainya fenomena itu terjadi di abad milenia ini, yaitu bahasa Indonesia akan menjadi salah satu bahasa Internasional. Setujukah anda? Bagi saya pribadi, kemungkinan itu sangantlah besar. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Itu bisa menjadi kenyataan. Saya sangat optimis. Karena, selama kurun waktu hampir 74 tahun merdeka, bahasa Indonesia berkembang begitu cepat. Bahasa Indonesia banyak mengalami penambahan kosa kata, baik itu yang berasal dari hasil akulturasi budaya antar daerah, juga pengaruh akulturasi dengan negara lain. Semua itu menambah khasanah perbendaraan kata-kata baru. Ini adalah bukti bahwa Bahasa Indonesia sudah merambah ke dunia luar melalui pertukaran budaya antar masyarakat bangsa di dunia. Era global dan perdagangan bebas membuka peluang itu lebih luas lagi. Sekarang Negara-negara di dunia banyak yang sudah mengenal bahasa kita itu. Masyarakat dunia saat ini sedang mencondongkan pandangannya kearah negara kita Indonesia. Ibarat pepatah negara kita sedang cantik-cantiknya. Sedang merekah senyumnya. Masyarakat manca negara tertarik dan berhasrat untuk datang. Tentu saja, hal ini karena kondisi jiwa dan raga Indonesia yang sehat walafiat. Negara Indonesia di pandang cukup aman untuk dikunjungi untuk berbagai keperluan. Rakyat hidup sejahtera, dalam tanda kutip dilihat dari daya beli masyarakat tinggi juga di lihat dari banyaknya kunjungan orang Indonesia ke luar negeri. Ini menunjukkan adanya stabilitas keamanan dan ekonomi yang cukup kondusif. Apalagi belahan dunia bagian barat sedang mengalami krisis ekonomi di sebabkan adanya perang dagang antara Amerika dan Cina. Sehingga banyak Negara-negara di dunia, terutama Eropa, Afrika, Amerika juga Asia, memalingkan pandangannya ke negara kita, Mereka menganggap pemerintah telah mampu menstabilkan kondisi negaranya. Kita tahu bahwa kondisi stabil adalah modal utama menuju kemajuan bangsa, sekaligus sebagai langkah awal menuju dunia baru yaitu Era global.Tidak akan ada keterbatasan hubungan antar bangsa. Mereka bisa berbaur satu sama lain, bisa bekerja di negara lain, bisa memilih tinggal di negara lain dan menikah dengan orang dari negara lain yang mereka kenal, Dan pada Era inilah, saatnya kita harus lebih giat lagi mengenalkan bahasa Indonesia agar bisa di kenal dan dipergunakan oleh masyarakat dunia. Peluang yang sangat besar itu jika di atur benar-benar oleh Negara, sudah pasti akan terwujud. Rakyat Indonesia harus pandai-pandai menciptakan peluang atau membuat terobosan baru agar bahasa Indonesia bisa memegang peran di dunia internasional serta kedudukannya di perhitungkan di arena pergaulan dunia. Ada banyak faktor yang memungkinkan bahasa Indonesia bisa mendunia, antara lain: 1. Tata bahasanya yang simple dan fleksibel serta mudah dipahami oleh penuturnya. Selain itu luwes dan mampu mengikuti dinamika perkembangan bahasa dan budaya masyarakat di dunia. Sehingga Bahasa Indonesia siap menerima masukan-masukan baru dari perubahan itu tanpa meninggalkan bentuk kebakuannya. Misalnya, karena perkembangan teknology sehingga muncul istilah-istilah baru yang justru menambah kekayaan kosa kata bahasa Indonesia. Contohnya antara lain: gawai, ranala, ponsel, tetikus, warganet, daring, luring dan masih banyak lagi sebagai hasil dari perkembangan dunia IT dan jejaring social (MEDSOS). Untuk itu di perlukan campur tangan ahli bahasa untuk menciptakan kamus bahasa Indonesia baru yang bisa mengadopsi kata kata baru itu kedalam kamus kosa kata bahasa Indonesia . 2. Laju perkembangan media social (medsos) yang pesat, memungkinkan orang saling bertukar informasi dan saling berinteraksi satu sama lain. Tentu saja komunikasi bisa berjalan bila kedua belah pihak paham akan bahasa masing-masing. Misal di dunia medsos ada system penerjemah untuk masing masing bahasa. Dan di harapkan pihak- pihak yamg terkait memberikan pelayanan yang terbaik untuk membuat mesin penerjemah bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baku. Selain bahasa yang sederhana juga mudah dipahami pemakainya. Pada kenyataanya saat ini, pengguna sosial media masih belum mengikuti aturan berbahasa tersebut. Mereka cenderung mengabaikan segi etika berbahasa dan semau gue. Konten konten chatting, kadang tidak sopan dan tidak mencerminkan masyarakat Indonesia yang terkenal berbudaya tinggi dan santun. Inilah yang sebenarnya merusak citra bahasa Indonesia di mata dunia. Budaya Copas konten tanpa berpikir terlebih dahulu apakah pemiliknya ataukah belum masih berlaku di masyarakat. Ini harus di batasi. Masyarakat harus dipahamkan bahwa lebih bermartabat menulis konten sendiri daripada men-share atau meng-copas dari tulisan orang lain. Peran pemerintah diperlukan untuk memberi payung hukum yang tegas tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar di dunia medsos. Tegas, mengandung makna harus ada sanksi yang jelas dan tegas bagi pengguna yang keliru atau melanggar. 2. Pemerintah harus mampu membuka peluang bagi warga masyarakatnya berkreasi dan dan berinovasi. Masyarakat diprovokasi agar membuat sesuatu dan mendorong seluas-luasnya di dunia medsos. Dengan menggunakan bahasa Indonesia selaras dengan aplikasi yang di gunakannya. Konten konten yang di gunakan misalnya harus dalam bentuk sederhana, menarik dan sesuai kaidah yang benar. Bahasa tidak boleh vulgar. Orang luar akan memandang tidak saja norak tetapi juga akan merendahkan bahasa Indonesia. Untuk itu di perlukan adanya kesadaran dari masyarakat Indonesia untuk berbahasa yang bak dan benar, Dalam arti tidak bercampur aduk, berbaur antara bahasa daerah dan dialek dialek daerah tertentu yang bisa mengaburkan keelokan bahasa Indonesia. 3. Untuk kalangan bisnis misalnya, harusnya diciptakan aturan khusus bagi para pencari kerja dari luar negeri untuk wajib berbahasa Indonesia. Ini penting, sebagai upaya agar bahasa Indonesia memegang peranan penting bagi mereka. Demikian juga dengan penanam modal asing di Indonesia di wajibkan untuk belajar dan berbahasa Indonesia agar keberadaaan bahasa kita di segani dan mendapat tempat di hati masyarakat dunia. Saya bangga terhadap para pengembang perumahan di sini karena sudah mengikuti anjuran perintah agar membuat nama-nama Indonesia untuk proyek proyek perumahan rakyat yang di bangunnya, sehingga nama-nama Indonesia muncul di berbagai iklan perumahan rakyat. Bukan lagi menggunakan nama-nama bahasa asing. Tetapi pada kenyataannya, masih banyak para pengembang yang mengabaikan seruan ini. Disinilah pentingnya, pemerintah harus terus mendorong dan mengontrol kebijakan yang dibuatnya tersebut. 4. Bagi orang luar yang sedang mempelajari kebudayaan Indonesia, yaitu kaum akademisi dan para pelajar, serta sukarelawan dari luar negeri, diwajibkan untuk berbahasa dengan baik dan benar. Sekali lagi peran pemerintah di perlukan untuk membuat aturan hukumnya. banyak universitas dari luar negeri juga sudah memasukkan bahasa Indonesia di kurikulum mereka . Tidak hanya universitas, sekolah-sekolah menengah luar negeri juga mengajarkan bahasa Indonesia pada penduduknya. Ada kira kira 45 lebih Negara Negara yang sudah mengajarkan bahasa Indonesia di negaranya (sumber era.id). Wow, sungguh menakjubkan. Artinya bahasa Indonesia sangat di perlukan oleh masyarakat dunia pada saat ini. 5. Medsos memperpendek jarak dan mempererat komunikasi antar bangsa sehingga mempermudah perkawinan antar dua negara berbeda bahasa. Sehingga mau tidak mau mereka saling belajar bahasa mereka masing-masing. Harusnya ada aturan bahwa orang luar negeri yang menikah dengan orang Indonesia harus bisa berbahasa Indonesia. Aturan ini bukannya tidak mungkin di terapkan. Ini adalah salah satu peran pemerintah membantu peningkatan penggunaan bahasa Indonesia di dunia internasional. Saya berkeyakinan bahwa bahasa kita akan mendunia dan itu bukanlah isapan jempol belaka. Asal semua elemen bangsa sadar akan betapa berharganya bahasa nasional mereka yaitu salah satunya untuk mempertinggi prestise negara kita di mata dunia. Bahasa Jawa saja mulai di kenal di beberapa Negara. Mengapa bahasa Indonesia tidak? Faktanya menurut dia adalah banyaknya orang dari luar negeri yang datang ke Indonesia dan mereka belajar bahasa Indonesia. Baik itu sebagai turis atau pekerja atau kalangan akademisi. Ada cerita lucu yang sering saya jumpai berkenaan dengan turis yang datang ke Indonesia. Ketika sedang piknik ke Bali, saya berkeinginan bisa mempraktikkan bahasa Inggris dengan orang asing. Sebegitu susahnya saya mengumpulkan seluruh keberanian untuk berkomunikasi dengan mereka tetapi ternyata saya kelabakan sendiri manakala turis yang mau saya ajak berbicara itu pandai berbahasa Indonesia. Saya kaget dan jadi malu sendiri. Akhirnya kami pun becakap cakap dalam bahasa Indonsia sesekali saya bertanya dalam bahasa Inggris. Ada rasa bangga dalam hati saya ternyata mereka sudah lama belajar bahasa Indonesia. Saya bertanya apa alasan mereka belajar bahasa Indonesia. Mereka mengatakan bahwa mereka sangat tertarik dengan masyarakat Indonesia dan kebudayaannya yang beraneka ragam. Mereka ingin mengenal lebih dekat. Karena itu mereka mempelajari bahasa persatuannya supaya bisa dengan mudah mempelajari bahasa daerah dan kebudayaannya masing masing. Kesimpulan saya adalah bahwa sebelum datang ke Indonesia setidaknya mereka sudah berbekal bahasa Indonesia, paling tidak mereka mempelajarinya terlebih dulu agar mereka mampu berkomunikasi dengan semua orang yang berkepentingan dengannya, misalnya ketika dia mau pergi berbelanja atau lainnya. Kemungkina bahasa Indonesia menjadi bahasa pergaulan internasional sangat besar bila ditunjang oleh pejabat pemerintah dan kalangan selebriti dalam hal ini artis atau seniman. Mereka bisa mempergunakan bahasa kita itu di event event internasionl, Misal dalam pebuatan film hendaknya mampu mendobrak kalangan dunia perfilman hingga film kita mampu di di kenal di kalangan orang orang barat. Salah satu contohnya adalah film hasil kerjasama Sutradara dan pemain film Indonesia dan luar negeri sudah mempergunakan dialog bahasa Indonesia , yaitu film “ JohnWick 3”. Inilah terobosan baru yang patut di acungi jempol. Kalangan politisi dan para diplomat hendaknya mempromotori pemakaian bahasa Indonesia di forum forum internasional. Agar para nergarawan negara asing juga mengenal dan mempelajari bahasa nasional kita itu. Bukan berarti para diplomat yang keluar negeri itu tidak perlu memiliki kemampuan berbahasa asing, Melainkan ini hanyalah salah satu strategi poitik untuk menduniakan bahasa Indonesia. Selain itu, banyak perkumpulan perkumpulan baik di dunia nyata atau melalui medsos, di haruskan membuat slogan slogan Indonesia yang keren keren yng bisa menarik dunia internasional. Misalnya : pembuatan quotes, kata kata motivasi kehidupan atau lainnya, misalnya membuat komik yang bagus sehingga akan di kenal oleh para pengguna dari luar negeri. Banyak kita temui di berbagai medsos yakni YouTube, WA, FB, TWITER atau lainnya banyak yang men-share tentang konten konten itu. Sudah banyak universitas di Indonesia mengadakan program BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing), misalnya UNESA yang bekerja sama dengan universitas dari luar negeri untuk saling bertukar berkunjung belajar dan mewajibkan mahasiswanya untuk bisa berbahasa Indonesia. Pernah ada kunjungan mahasiswa dari Thailand ke SMPN 6 untuk mempelajari dari dekat pembelajaran anak anak berkebutuhan khusus di Indonesia, dalam hal ini yang ada di SMPN 6 Sidoarjo. Dalam amomg omong dengan mereka, saya menanyakan apakah mereka juga bisa berbahasa Indonesia dan mereka menjelaskan bahwa sebelum ikut program BIPA mereka wajib belajar bahasa Indonesia terlebih dahulu. Inilah bukti nyata bahwa peran pemerintah Indonesia masih sangat diperlukan untuk menjadikan Bahasa Indonesia mendunia di Abad Milenia ini. Sebagai seorang guru, Saya selalu menekankan pada para siswa agar selalu menjunjung tinggi bahasa persatuan dengan cara mempergunakannya dalam komunikasi sehari hari juga mempergunakannya untuk keperluan berinteraksi sesama teman atau relasi baik itu tertulis maupun lesan, baik offline maupun online. Kesemuanya itu dengan harapan akan banyak orang luar negeri yang bisa dan mampu berbahasa Indonesia dengan lancar seperti halnya mereka mengenal dan mampu berbahasa Inggris dengan orang dari negara lain. Penulis juga ingin mewujudkan impiannya bahwa bila suatu ketika dia bepergian keluar negeri, dia bisa berbicara dengan orang luar negeri menggunakan bahasa Indonesia. Alangkah bangganya. ------------ Data Penulis: Nama : Sri Andayani,S.Pd Pekerjaan : Guru Bahasa Inggris Instansi : SMPN 6 Sidoarjo Email : andayani15@gmail.com Hp : 081335303252

Minggu, 19 April 2020

Andil Para Penggerak Literasi Di Masa Pandemi Covid 19

Andil Para Penggerak Literasi 


Di Masa Pandemi Covid 19 Rasanya sangat memprihatinkan melihat kondisi ketidak pastian tentang kapan berakhirnya pandemi Covid 19 saat ini. Kondisi kecemasan sudah melanda semua orang. Masyarakat bingung harus melakukan apa. Ingin mengikuti anjuran pemerintah untuk tinggal dirumah namun, kebutuhan hidup menuntut mereka untuk keluar. Mereka juga butuh memberi keluarganya makan. Kepanikan ini tdak saja melingkupi masyarakat kalangan bawah, tetapi sudah menjangkiti semua kalangan. Tidak ada yang terlewati oleh teror yang dibuat oleh Covid 19. Virus ini tidak tebang pilih, semua di hinggapinya. Lama-lama masyarakat akan mengalami gncangan hebat akibat stres yang berjamaah dan berkepanjangan. 
 
Pemerintah apalagi tidak kalah stresnya. Uang Negara habis untuk di fokuskan pada penanganan kasus ini. Segala daya dan upaya dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus nakal ini. Namun bagaikan menaruh air di daun talas. Himbauan keras pemerintah itu ternyata tidak di patuhi oleh semua kalangan. Masih banyak orang yang tidak paham terhadap kondisi buruk yang sedang menimpa negara ini. Mereka lebih mengedepankan ego masing-masing. Sehingga kebijakan yang seharusnya diharapkan bisa mengerem laju penularan tidak bisa berjalan dengan mulusnya. 

Dari hari ke hari peningkatan jumlah kasus orang yang terjangkiti bertambah. Masih banyak yang bersikap masa bodoh, cuek, curiga bahkan anti patih terhadap anjuran pemerintah. Kondisi ini diperparah dengan adanya berita yang simpang siur yang belum pasti kebenarannya(hoax). Semua orang bertindak semau gue. Peran medsos mempersubur penyebaran berita hoax tersebut. Orang dengan mudahnya menyebarkan berita dari satu akun ke akun lainnya tanpa ada rasa takut mendapatkan sanksi hukum atas kelalaiannya. 

Kenapa ini terjadi? Masyarakat sudah bosan dengan situaasi yang dihadapinya. Sebagian masyarakat sudah terlalu resah ingin segera mengakhiri wabah ini. Tetapi banyak pula yang berlagak sok jagoan seolah ia kebal dengan virus ini. Akhirnya banyak yang bertindak selayak sesukanya, memberi resep-resep, jamu, obat, atau tip-tip yang sekiranya bisa mengobati orang yang terjangkiti virus ini. Ada yang bertindak seperti seorang pakar kesehatan, pakar ekonomi dan pakar sosial yang membuat statement-statement yang malah membuat masyarakat lebih bingung. Ada juga yang membuat konten-konten jenaka yang isinya sindiran, luapan kemarahan, kepanikan, dan juga pada ketidakmampuan mereka mengatasi pandemi ini. 

Lalu apa peran dari para Penggiat Literasi di masa pandemik ini? Apakah mereka ikut pada golongan yang memperkeruh kondisi atau yang meredahkan kepanikan? Atau apakah mereka justru tidak berbuat apa-apa? Tanyakanlah pada hati sendiri apa yang bisa kita sumbangkan untuk bangsa dalam kondisi ini. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Tentu saja lewat tulisan kita. Kita bangun opini yang sifatnya memberi kesejukan. Kita beri mereka tulisan yang mendidik. Kita beri pemahaman pada masyarakat bahwa negeri kita sedang diuji oleh Allah dengan sesuatu yang natural. Semua orang harus berbesar hati dan sabar, patuh pada anjuran pemerintah agar bencana ini segera berakhir. Tidak menulis sesuatu yang memperkeruh situasi, memicu kecemburuan sosial di masyarakat. Membuat konten-konten ajakan atau himbauan yang lebih mementingkan ikatan kerukunan sosial kebangsaan bukan malah membuat perpecahan. Memberi wawasan yang cerdas pada masyarakat untuk lebih banyak melakukan kegiatan di rumah untuk memperbaiki kualitas ibadah dan keperdulian dengan masyarakat sekitar. 

Kesulitan ekonomi selayaknya bukan menjadikan seseorang lebih mementingkan diri sendiri dengan cara menumpuk sembako di rumah karena ketakutan akan adanya masa karantina yang diperpanjang. Menghimbau masyarakat agar bertindak sewajarnya saja tidak berlebihan. Megingatkan masyarakat agar menengok tetangga kanan-kirinya jika membutuhkan pertolongan. Intinya tugas para pegiat literasi ialah membuat situasi dan kondisi nyaman dan aman di tengah-tengah masyarakat. Melalui tulisannya pegiat Literasi mampu menginspirasi dan mendidik masyarakat untuk bertindak lebih cerdas dan bijaksana.