Kamis, 15 Juli 2021

 

Resume menulis ke-2

Kelas Belajar Menulis Pertemuan ke-2 Gelombang 19 dan 20 Rabu 14 Juli 2021

Jauhilah Plagiarisme

Sri Andayani

            Alhamdulillah saya pada akhirnya bisa menuliskan resume belajar menulis bersama Kelas Menulis  PGRI asuhan Bapak Wijaya Kusuma atau Om Jay. Saya tidak bisa mengikuti sesi ke-2 ini langsung  karena tiba-tiba badan saya merasa sangat capek lalu tiba-tiba saja saya tertidur padahal saya sudah menunggu kelas belajar ini dari awal.

Tetapi syukurlah materinya ditulis di WA sehingga saya bisa mengikuti pelajaran keesokan harinya dan mempelajari  materinya. Pada sesi ke-2 kali ini dibawakan oleh seorang Narasumber handal yakni Ibu May dari lebak Banten. Beliau adalah mantan peserta menulis pada gelombang 18 di kelas menulis ini.

            Malam ini yang bertindak sebagai moderator adalah seorang ibu yang mengaku sebagai NELI dari Banda Aceh, ibu Rita Wati. Ibu Rita membuka kelas dengan ucapan syukur kepada Allah dan kepada Nabi Muhmmad karena atas berkatNyalah dan atas bimbingan Nabilah kita semua bisa berkumpul dalam satu forum belajar menulis secara daring dalam kondisi sehat walafiat. Karena petunjuk nabilah bahwa kita semua di beri keluasan hati untuk terus mencari ilmu bagi kemaslahatan hudup kita dan juga orang lain. Lalu ibu Rita mengajak kita semua berdoa agar kita semua mendapatkan petunjuk dan kemudaan pemahaman dari Allah SWT.

            Kelas ini di bagi menjadi 3 sesi, antara lain: sesi pebukaan, paparan narasumber, tanya jawab dan penutup. Materi yang di sampaikan oleh ibu Maesaroh,M.Pd adalah “Trik Cepat Menulis Resume di Blog”.Ibu Mae demikian panggilan untuk ibu Maesaroh adalah Wanita ayu kelahiran Lebak Banten. Beliau adalah seorang guru pendidik di SMPN 1 Lebak Banten. Beliau merupakan salah satu peserta berprestasi pada Kelas Belajar Menulis Gelombang 18. Kepiawaiannya dan Semangatnya dalam menulis memang patut di acungi jempol. Ibu Mae selalu menjadi yang tercepat dalam pengumpulan tugas resume di setiap sesi belajar menulis. Beliau dijuluki seorang blogger Milenia karena kepiawiannya menulis di blog.

            Dengan rendah hati ibu Mae menceritakan awal mulanya dia sebagai peserta kelas menulis hingga dipercaya sebagai seorang narasumber. Berawal dari pengalamannya menulis tesis dan seringnya kemampuan itu digunakan untuk membantu teman-temannya hingga lama kelamanan menjadi suatu kebiasaan menulis, yang membuatnya menjadi seorang yang sangat handal. Pengalaman yang patut dicatat dan diteladani adalah kecepatan dalam menulis resume.

 Kesungguhan dan fokus sangat penting dalam belajar. Dalam paparannya beliau menceritakan pengalaman belajarnya antar lain,beliau selalu menyimak dengan sungguh-sungguh ketika narasumber memaparkan materi dan  berusaha memahami sambil memberikann catatan rangkuman, menyimpulkan isi  dan kemudian menuliskannya dengan gaya penulisan sendiri yang  menarik. Sehingga ketika narasumber selesai memberikan materi beliaupun juga selesai menuliskan resumenya. Sungguh kemampuan yang sangat luar biasa.

 Kebiasaannya itupun memberinya hasil,pada pertemuan ke 22. Menurut beliau, dalam waktu 2 hari sudah bisa membuat buku solo yang beliau beri judul “Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial” sungguh-sungguh suatu prestasi yang hebat sekali. Menerbitkan sebuah buku merupkan sebuah prestasi dan keberhasilan bagi setiap penulis. Sehingga beliau dinyatakan lulus pada pertemuan ke-23.

Satu hal yang paling menohok saya adalah kata-kata beliau yang terakhir sebagai penutup sekaligus pesannya yaitu jangan sekali-kali menjadi plagiator karena itu pekerjaan yang sangat memalukan bagi seorang penulis, apalagi kalau tulisannya itu dipublikasikan. Selain harus berhadapan dengan masalah hukum jika si pemilik tulisan asli menuntut,kita juga tidak akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain atau pembaca. Sebaliknya pembaca adalah orang yang paling kita layanii karena dari merekah adanya pengakuan tulisan kita. Maka seyogyanya kita memberikan sajian tulisan yang layak bahkan indah untuk mereka.

Memang sulit pada awalnya untuk menulis. Dan sebagai awal-awal kita belajar menulis adalah kita belajar dari tulisan orang lain. Kita bahkan disarankan untuk banyak  membaca  hasil karya tulis para penulis  kelas wahid sehingga kita bisa belajar dari mereka. Banyak ide-ide dan gaya penulisan yang berbeda diantara mereka .Tetapi itu bukan berarti kita menjiplak. Kita bisa meramu ide-ide itu  lalu memodifikasinya  dengan  gaya penulisan yang kita miliki. Sehingga akan membentuk gaya tulisan tersendiri bagi kita yang menjadi ciri khas kita.

Hal lain yang patut di acungi jempol dari beliau adalah semangatnya dalam menulis hingga dalam waktu singkat yakni 6 bulan sudah menghasilkan beberapa buku. Sungguh suatu prestasi yang patut dibanggakan.

Bagaimana caranya menulis resume dengan cepat? Dengan ringkas ibu Mae membuka rahasia tentang trik-triknya menuis resume cepat paada blognya, anatara lain:

1.      Menyiapkan gawai dan laptop   

2.   Menyiapkn mental belajar dan membuat pemikiran positif bahwa resume tercepat itulah yang akan menarik pembaca

3.      Menulis dengan Bahasa yang menarik

4.      Menambahkan referensi / kutipan dari tokohlain

5.      Meramu tulisan dengan bahasa yang khas

6.      Meberi kutipan

7.      Meberikan narasi pembuka dan penutup

8.      Tulisan dalam paragraf pendek-pendek dan mudah dipahami

 

Sebagai pesan terakhir dari paparannya,ibu Mae memberi motivasi pada kita untuk menjadi yang tercepat dalam menyelesaikan tugas dan menjadi yang terbaik. Satu lagi pesannya yaitu menulislah dengan penuh keyakinan di blog. Jadikan menulis sebagai kebiasanmu maka menulislah setiap hari. Jadilah seorang agen perubahan melalui tulisan tetapi jauhilah plagiarime karena itu merupakan kejahatan dalam kepenulisan.

#Kelas Menulis PGRI

#Menulis Resume di Blog

#Pelatihan Menulis Gelombag 19 & 20

 

Selasa, 13 Juli 2021

                                            

                                           

                                              Pelatihan Belajar Menulis Gelombang 19 & 20

Resume ke 1: Writer’s block

Sri Andayani

Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh.

Alhamdulillah saya bersyukur sekali pada Allah SWT yang memperkenankan saya menuliskan resume pelatihan menulis gelombang 19 & 20  asuhan  Baapak Wijaya Kusuma Atau biasa dipanggil Om Jay oleh rekan-rekan sesama penulis maupun calon penulis. Dalam kesempitan waktu antara mengajar dan belajar menulis ini, saya menyempatkan mengikuti pelatihan menulis  yang rencananya hingga 20 pertemuan atau bahkan  ada tambahan waktu hingga 30 pertemuan. Mudah-mudahan saya bisa mengikutinya dengan rutin.                                                         

Pada pertemuan pertama ini kelas diisi oleh seorang narasumber beken dari kota Solo yaitu ibu Sri Sugiastuti atau biasa di sapa dengan sebutan Ibu Kanjeng dari Keraton Solo.  Beliau adalah seorang inspirator, kurator, motivator juga seorang editor.Kegiatan ini dimoderatori oleh seorang ibu yang sangat lincah dan piawai dalam memandu  jalannya pelatihan  ini, yaitu ibu Aam dari Lebak Banten. Beliau adalah juga dulunya peserta pelatihan gelombang  sebelumnya Acara dibuka dengan  doa Bersama .

Kelas belajar ini dibagi menjadi 3 sesi antara lain: sesi pembukaaan, sesi materi dan tanya jawab. Ibu Kanjeng malam ini mengambil tema: Jadikan Menulis Sebagai Passion. Dari melihat judulnya saja sudah sangat menarik. Menulis sebagai Passion? Wow, sungguh membuat saya ingin tahu lebih lanjut. Kenapa demikian? Ini berhubungan dengan kondisi pribadi saya. Saya sebenarnya suka menulis. Saya sering ikut pelatihan-pelatihan menulis dari banyak kelas. Buku-buku saya juga sudah lumayan banyak, berupa beberapa karya solo maupun banyak antologi. Tetapi meski demikian saya merasa masih kurang ilmu dan salah satu kekurangan saya adalah saya sedikit kurang passion atau gairah dalam menulis. Bukan karena malas. Tetapi saya kadang-kadang mengalami writer’s block. Yaitu kemacetan dalam menulis. Saya seperti kurang ide atau kalau sudah punya saya seperti bingung apa yang akan saya lanjutkan,hingga akhirnya tulisan saya tinggalkan, macet. 

Pembahasan Ibu kanjeng sangat tepat dengan kondisi saya,sehingga setidaknya mampu menjawab sedikitnya permasalahan saya. Karena itu saya sangat berterima kasih. Benar apa kata ibu kanjeng bahwa segala bentuk hambatan itu sebenarnya adalah datang dari dalam diri kita sendiri. Kita banyak mendapat  pemahaman dari orang lain, para pakar menulis, para narasumber yang berpengalaman, tetapi semuanya akan Kembali pada diri kita sendiri, motivasi dan semangat kita untuk tetap berkomitmen dalam menulis. Karena itu menurut ibu Kanjeng harus ada alasan bagi kita untuk menulis, sebagai motivasi diri kita, misalnya orientasi material,eksistensial,personal, sosial ,juga spiritual.

Bagaimana agar seseorang bisa mewujudkan impiannya untuk menghasilkan karya sendiri berupa buku? Tentu saja ada beberapa cara menurut ibu Kanjeng antara lain:  banyak membaca berbagai buku baik cetak maupun e book, mengikuti tulisan-tulisan di medsos hingga kita tahu kemauan pasar, berdiskusi dengan sesama penulis baik secara langsung mupun lewat buku karyanya sehingga kita akan menemukan ide-ide baru dari ide orang lain walaupun itu bukan menjilak tetapi mungkin berupa modifikasi dari karya kita.

Yang tak kalah penting adalah membangun masyarakat sosial yang terdiri dari para penulis hingga kita menemukan teman yang akan mensupport dan memberikan kritik dan saran pada kita supaya tulisan kita menjadi lebih baik. Masyarakat penulis ini bisa berupa komunitas-komunitas penulis atau kelas-kelas pelatihan menulis sebagai sarana kita untuk berani  menampilkan karya kita sekaligus unjuk kebolehan menulis di arena sesama penulis. Ini akan sangat bagus bagi penulis untuk kualitas dan kemajuan kepenulisannya sekaligus juga sebagai tempat untuk ajang promosi buku karyanya.

Menulis merupakan proses belajar. Tentu saja membutuhkan waktu, tidak serta merta jadi. Apa saja persiapan-persiapan kita sebelum menulis? Dalam paparannya ibu Kanjeng memberikan gambaran pada kita beberapa cara ,antara lain:

·         Menggali dan menemukan gagasan: Untuk menemukan gagasan tidaklah muda, penulis harus melakukan pengamatan,riset,maupun baca kajian  Pustaka. Tetapi kadang gagasan akan muncul secara tiba-tiba atau bahkan berasal dari orang lain, seperti misalnya saat Om Jay melemparkan gambar buah Pisang lalu meminta siapa saja menulis apa saja tentang pisang.

·         Menentukan tujuan: Menentukan tujuan sangat penting agar apa yang kita tulis berhasil, harus ada target apakah tulisan kita berupa fiksi atau non fiksi, target pembaca kita siapa usianya berapa dan sebagainya.

·         Menentukan topik: Menentukan topik sangat penting karena akan memfokuskan arah tulisan kita ,apakah bertopik Kesehatan,pendidikn, anak inklusi , dan sebagainya.

·         Membuat outline:  Untuk mempermudah kepenulisan,kita buat kerangkanya dulu, berapa bagian, tiap bagian membahas apa.

·         Mengumpulkan bahan/materi/buku sumber: Banyak-banyak membaca, membaca apasaja, baik buku atau kondisi masyarakat.

·          Dan yang terakhir sekaligus pesan dari Ibu Kanjeng adalah mulailah menulis,menulis ,dan menulis, dan jadikan buku.

 


Senin, 20 April 2020

Aku Cinta Bahasa Indonesia

Mendunia dengan Bahasa Indonesia. Mungkinkah?

 Oleh: Sri Andayani,S.Pd

Di benak saya, ada pemikiran kalau bahasa Indonesia akan mampu mendunia di abad milenia ini. Apakah itu mungkin? Sebagian orang ada yang ragu dengan kemungkinan itu, ada yang merespon biasa saja, tetapi ada juga yang merasa optimis, dan saya termasuk salah satunya. Saya pernah membaca pendapat serupa di sebuah artikel koran ketika masih kuliah sekitar tahun 1990-an. Dalam kurun waktu hingga sekarang, saya melihat sudah banyak perkembangan. Banyak fakta yang membuktikan kalau bahasa Indonesia sudah merambah dunia Internasional saat ini. Banyak orang luar negeri yang berbondong-bondong mempelajarinya untuk berbagai keperluan dan alasan. Sebelum kita bahas lebih jauh, mari kita bahas definisi tentang makna kata mendunia. Apa kriteria mendunia di sini? Mendunia artinya menuju dunia luas atau go international (Kamus Bahasa Baku Indonesia). Itu berarti bahwa Bahasa Indonesia akan digunakan di forum-forum resmi maupun tidak resmi di tingkat internasional. Dengan kata lain, akan ada banyak negara di dunia yang aktif mengunakannya untuk keperluan komunikasi antar negara. Segala keperluan baik ekonomi, bisnis, budaya, serta hubungan sosial antar masyarakat di dunia akan mempergunakan bahasa kebanggaan bangsa Indonesia itu. Saya merasa sangat bangga seandainya fenomena itu terjadi di abad milenia ini, yaitu bahasa Indonesia akan menjadi salah satu bahasa Internasional. Setujukah anda? Bagi saya pribadi, kemungkinan itu sangantlah besar. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Itu bisa menjadi kenyataan. Saya sangat optimis. Karena, selama kurun waktu hampir 74 tahun merdeka, bahasa Indonesia berkembang begitu cepat. Bahasa Indonesia banyak mengalami penambahan kosa kata, baik itu yang berasal dari hasil akulturasi budaya antar daerah, juga pengaruh akulturasi dengan negara lain. Semua itu menambah khasanah perbendaraan kata-kata baru. Ini adalah bukti bahwa Bahasa Indonesia sudah merambah ke dunia luar melalui pertukaran budaya antar masyarakat bangsa di dunia. Era global dan perdagangan bebas membuka peluang itu lebih luas lagi. Sekarang Negara-negara di dunia banyak yang sudah mengenal bahasa kita itu. Masyarakat dunia saat ini sedang mencondongkan pandangannya kearah negara kita Indonesia. Ibarat pepatah negara kita sedang cantik-cantiknya. Sedang merekah senyumnya. Masyarakat manca negara tertarik dan berhasrat untuk datang. Tentu saja, hal ini karena kondisi jiwa dan raga Indonesia yang sehat walafiat. Negara Indonesia di pandang cukup aman untuk dikunjungi untuk berbagai keperluan. Rakyat hidup sejahtera, dalam tanda kutip dilihat dari daya beli masyarakat tinggi juga di lihat dari banyaknya kunjungan orang Indonesia ke luar negeri. Ini menunjukkan adanya stabilitas keamanan dan ekonomi yang cukup kondusif. Apalagi belahan dunia bagian barat sedang mengalami krisis ekonomi di sebabkan adanya perang dagang antara Amerika dan Cina. Sehingga banyak Negara-negara di dunia, terutama Eropa, Afrika, Amerika juga Asia, memalingkan pandangannya ke negara kita, Mereka menganggap pemerintah telah mampu menstabilkan kondisi negaranya. Kita tahu bahwa kondisi stabil adalah modal utama menuju kemajuan bangsa, sekaligus sebagai langkah awal menuju dunia baru yaitu Era global.Tidak akan ada keterbatasan hubungan antar bangsa. Mereka bisa berbaur satu sama lain, bisa bekerja di negara lain, bisa memilih tinggal di negara lain dan menikah dengan orang dari negara lain yang mereka kenal, Dan pada Era inilah, saatnya kita harus lebih giat lagi mengenalkan bahasa Indonesia agar bisa di kenal dan dipergunakan oleh masyarakat dunia. Peluang yang sangat besar itu jika di atur benar-benar oleh Negara, sudah pasti akan terwujud. Rakyat Indonesia harus pandai-pandai menciptakan peluang atau membuat terobosan baru agar bahasa Indonesia bisa memegang peran di dunia internasional serta kedudukannya di perhitungkan di arena pergaulan dunia. Ada banyak faktor yang memungkinkan bahasa Indonesia bisa mendunia, antara lain: 1. Tata bahasanya yang simple dan fleksibel serta mudah dipahami oleh penuturnya. Selain itu luwes dan mampu mengikuti dinamika perkembangan bahasa dan budaya masyarakat di dunia. Sehingga Bahasa Indonesia siap menerima masukan-masukan baru dari perubahan itu tanpa meninggalkan bentuk kebakuannya. Misalnya, karena perkembangan teknology sehingga muncul istilah-istilah baru yang justru menambah kekayaan kosa kata bahasa Indonesia. Contohnya antara lain: gawai, ranala, ponsel, tetikus, warganet, daring, luring dan masih banyak lagi sebagai hasil dari perkembangan dunia IT dan jejaring social (MEDSOS). Untuk itu di perlukan campur tangan ahli bahasa untuk menciptakan kamus bahasa Indonesia baru yang bisa mengadopsi kata kata baru itu kedalam kamus kosa kata bahasa Indonesia . 2. Laju perkembangan media social (medsos) yang pesat, memungkinkan orang saling bertukar informasi dan saling berinteraksi satu sama lain. Tentu saja komunikasi bisa berjalan bila kedua belah pihak paham akan bahasa masing-masing. Misal di dunia medsos ada system penerjemah untuk masing masing bahasa. Dan di harapkan pihak- pihak yamg terkait memberikan pelayanan yang terbaik untuk membuat mesin penerjemah bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baku. Selain bahasa yang sederhana juga mudah dipahami pemakainya. Pada kenyataanya saat ini, pengguna sosial media masih belum mengikuti aturan berbahasa tersebut. Mereka cenderung mengabaikan segi etika berbahasa dan semau gue. Konten konten chatting, kadang tidak sopan dan tidak mencerminkan masyarakat Indonesia yang terkenal berbudaya tinggi dan santun. Inilah yang sebenarnya merusak citra bahasa Indonesia di mata dunia. Budaya Copas konten tanpa berpikir terlebih dahulu apakah pemiliknya ataukah belum masih berlaku di masyarakat. Ini harus di batasi. Masyarakat harus dipahamkan bahwa lebih bermartabat menulis konten sendiri daripada men-share atau meng-copas dari tulisan orang lain. Peran pemerintah diperlukan untuk memberi payung hukum yang tegas tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar di dunia medsos. Tegas, mengandung makna harus ada sanksi yang jelas dan tegas bagi pengguna yang keliru atau melanggar. 2. Pemerintah harus mampu membuka peluang bagi warga masyarakatnya berkreasi dan dan berinovasi. Masyarakat diprovokasi agar membuat sesuatu dan mendorong seluas-luasnya di dunia medsos. Dengan menggunakan bahasa Indonesia selaras dengan aplikasi yang di gunakannya. Konten konten yang di gunakan misalnya harus dalam bentuk sederhana, menarik dan sesuai kaidah yang benar. Bahasa tidak boleh vulgar. Orang luar akan memandang tidak saja norak tetapi juga akan merendahkan bahasa Indonesia. Untuk itu di perlukan adanya kesadaran dari masyarakat Indonesia untuk berbahasa yang bak dan benar, Dalam arti tidak bercampur aduk, berbaur antara bahasa daerah dan dialek dialek daerah tertentu yang bisa mengaburkan keelokan bahasa Indonesia. 3. Untuk kalangan bisnis misalnya, harusnya diciptakan aturan khusus bagi para pencari kerja dari luar negeri untuk wajib berbahasa Indonesia. Ini penting, sebagai upaya agar bahasa Indonesia memegang peranan penting bagi mereka. Demikian juga dengan penanam modal asing di Indonesia di wajibkan untuk belajar dan berbahasa Indonesia agar keberadaaan bahasa kita di segani dan mendapat tempat di hati masyarakat dunia. Saya bangga terhadap para pengembang perumahan di sini karena sudah mengikuti anjuran perintah agar membuat nama-nama Indonesia untuk proyek proyek perumahan rakyat yang di bangunnya, sehingga nama-nama Indonesia muncul di berbagai iklan perumahan rakyat. Bukan lagi menggunakan nama-nama bahasa asing. Tetapi pada kenyataannya, masih banyak para pengembang yang mengabaikan seruan ini. Disinilah pentingnya, pemerintah harus terus mendorong dan mengontrol kebijakan yang dibuatnya tersebut. 4. Bagi orang luar yang sedang mempelajari kebudayaan Indonesia, yaitu kaum akademisi dan para pelajar, serta sukarelawan dari luar negeri, diwajibkan untuk berbahasa dengan baik dan benar. Sekali lagi peran pemerintah di perlukan untuk membuat aturan hukumnya. banyak universitas dari luar negeri juga sudah memasukkan bahasa Indonesia di kurikulum mereka . Tidak hanya universitas, sekolah-sekolah menengah luar negeri juga mengajarkan bahasa Indonesia pada penduduknya. Ada kira kira 45 lebih Negara Negara yang sudah mengajarkan bahasa Indonesia di negaranya (sumber era.id). Wow, sungguh menakjubkan. Artinya bahasa Indonesia sangat di perlukan oleh masyarakat dunia pada saat ini. 5. Medsos memperpendek jarak dan mempererat komunikasi antar bangsa sehingga mempermudah perkawinan antar dua negara berbeda bahasa. Sehingga mau tidak mau mereka saling belajar bahasa mereka masing-masing. Harusnya ada aturan bahwa orang luar negeri yang menikah dengan orang Indonesia harus bisa berbahasa Indonesia. Aturan ini bukannya tidak mungkin di terapkan. Ini adalah salah satu peran pemerintah membantu peningkatan penggunaan bahasa Indonesia di dunia internasional. Saya berkeyakinan bahwa bahasa kita akan mendunia dan itu bukanlah isapan jempol belaka. Asal semua elemen bangsa sadar akan betapa berharganya bahasa nasional mereka yaitu salah satunya untuk mempertinggi prestise negara kita di mata dunia. Bahasa Jawa saja mulai di kenal di beberapa Negara. Mengapa bahasa Indonesia tidak? Faktanya menurut dia adalah banyaknya orang dari luar negeri yang datang ke Indonesia dan mereka belajar bahasa Indonesia. Baik itu sebagai turis atau pekerja atau kalangan akademisi. Ada cerita lucu yang sering saya jumpai berkenaan dengan turis yang datang ke Indonesia. Ketika sedang piknik ke Bali, saya berkeinginan bisa mempraktikkan bahasa Inggris dengan orang asing. Sebegitu susahnya saya mengumpulkan seluruh keberanian untuk berkomunikasi dengan mereka tetapi ternyata saya kelabakan sendiri manakala turis yang mau saya ajak berbicara itu pandai berbahasa Indonesia. Saya kaget dan jadi malu sendiri. Akhirnya kami pun becakap cakap dalam bahasa Indonsia sesekali saya bertanya dalam bahasa Inggris. Ada rasa bangga dalam hati saya ternyata mereka sudah lama belajar bahasa Indonesia. Saya bertanya apa alasan mereka belajar bahasa Indonesia. Mereka mengatakan bahwa mereka sangat tertarik dengan masyarakat Indonesia dan kebudayaannya yang beraneka ragam. Mereka ingin mengenal lebih dekat. Karena itu mereka mempelajari bahasa persatuannya supaya bisa dengan mudah mempelajari bahasa daerah dan kebudayaannya masing masing. Kesimpulan saya adalah bahwa sebelum datang ke Indonesia setidaknya mereka sudah berbekal bahasa Indonesia, paling tidak mereka mempelajarinya terlebih dulu agar mereka mampu berkomunikasi dengan semua orang yang berkepentingan dengannya, misalnya ketika dia mau pergi berbelanja atau lainnya. Kemungkina bahasa Indonesia menjadi bahasa pergaulan internasional sangat besar bila ditunjang oleh pejabat pemerintah dan kalangan selebriti dalam hal ini artis atau seniman. Mereka bisa mempergunakan bahasa kita itu di event event internasionl, Misal dalam pebuatan film hendaknya mampu mendobrak kalangan dunia perfilman hingga film kita mampu di di kenal di kalangan orang orang barat. Salah satu contohnya adalah film hasil kerjasama Sutradara dan pemain film Indonesia dan luar negeri sudah mempergunakan dialog bahasa Indonesia , yaitu film “ JohnWick 3”. Inilah terobosan baru yang patut di acungi jempol. Kalangan politisi dan para diplomat hendaknya mempromotori pemakaian bahasa Indonesia di forum forum internasional. Agar para nergarawan negara asing juga mengenal dan mempelajari bahasa nasional kita itu. Bukan berarti para diplomat yang keluar negeri itu tidak perlu memiliki kemampuan berbahasa asing, Melainkan ini hanyalah salah satu strategi poitik untuk menduniakan bahasa Indonesia. Selain itu, banyak perkumpulan perkumpulan baik di dunia nyata atau melalui medsos, di haruskan membuat slogan slogan Indonesia yang keren keren yng bisa menarik dunia internasional. Misalnya : pembuatan quotes, kata kata motivasi kehidupan atau lainnya, misalnya membuat komik yang bagus sehingga akan di kenal oleh para pengguna dari luar negeri. Banyak kita temui di berbagai medsos yakni YouTube, WA, FB, TWITER atau lainnya banyak yang men-share tentang konten konten itu. Sudah banyak universitas di Indonesia mengadakan program BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing), misalnya UNESA yang bekerja sama dengan universitas dari luar negeri untuk saling bertukar berkunjung belajar dan mewajibkan mahasiswanya untuk bisa berbahasa Indonesia. Pernah ada kunjungan mahasiswa dari Thailand ke SMPN 6 untuk mempelajari dari dekat pembelajaran anak anak berkebutuhan khusus di Indonesia, dalam hal ini yang ada di SMPN 6 Sidoarjo. Dalam amomg omong dengan mereka, saya menanyakan apakah mereka juga bisa berbahasa Indonesia dan mereka menjelaskan bahwa sebelum ikut program BIPA mereka wajib belajar bahasa Indonesia terlebih dahulu. Inilah bukti nyata bahwa peran pemerintah Indonesia masih sangat diperlukan untuk menjadikan Bahasa Indonesia mendunia di Abad Milenia ini. Sebagai seorang guru, Saya selalu menekankan pada para siswa agar selalu menjunjung tinggi bahasa persatuan dengan cara mempergunakannya dalam komunikasi sehari hari juga mempergunakannya untuk keperluan berinteraksi sesama teman atau relasi baik itu tertulis maupun lesan, baik offline maupun online. Kesemuanya itu dengan harapan akan banyak orang luar negeri yang bisa dan mampu berbahasa Indonesia dengan lancar seperti halnya mereka mengenal dan mampu berbahasa Inggris dengan orang dari negara lain. Penulis juga ingin mewujudkan impiannya bahwa bila suatu ketika dia bepergian keluar negeri, dia bisa berbicara dengan orang luar negeri menggunakan bahasa Indonesia. Alangkah bangganya. ------------ Data Penulis: Nama : Sri Andayani,S.Pd Pekerjaan : Guru Bahasa Inggris Instansi : SMPN 6 Sidoarjo Email : andayani15@gmail.com Hp : 081335303252

Minggu, 19 April 2020

Andil Para Penggerak Literasi Di Masa Pandemi Covid 19

Andil Para Penggerak Literasi 


Di Masa Pandemi Covid 19 Rasanya sangat memprihatinkan melihat kondisi ketidak pastian tentang kapan berakhirnya pandemi Covid 19 saat ini. Kondisi kecemasan sudah melanda semua orang. Masyarakat bingung harus melakukan apa. Ingin mengikuti anjuran pemerintah untuk tinggal dirumah namun, kebutuhan hidup menuntut mereka untuk keluar. Mereka juga butuh memberi keluarganya makan. Kepanikan ini tdak saja melingkupi masyarakat kalangan bawah, tetapi sudah menjangkiti semua kalangan. Tidak ada yang terlewati oleh teror yang dibuat oleh Covid 19. Virus ini tidak tebang pilih, semua di hinggapinya. Lama-lama masyarakat akan mengalami gncangan hebat akibat stres yang berjamaah dan berkepanjangan. 
 
Pemerintah apalagi tidak kalah stresnya. Uang Negara habis untuk di fokuskan pada penanganan kasus ini. Segala daya dan upaya dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus nakal ini. Namun bagaikan menaruh air di daun talas. Himbauan keras pemerintah itu ternyata tidak di patuhi oleh semua kalangan. Masih banyak orang yang tidak paham terhadap kondisi buruk yang sedang menimpa negara ini. Mereka lebih mengedepankan ego masing-masing. Sehingga kebijakan yang seharusnya diharapkan bisa mengerem laju penularan tidak bisa berjalan dengan mulusnya. 

Dari hari ke hari peningkatan jumlah kasus orang yang terjangkiti bertambah. Masih banyak yang bersikap masa bodoh, cuek, curiga bahkan anti patih terhadap anjuran pemerintah. Kondisi ini diperparah dengan adanya berita yang simpang siur yang belum pasti kebenarannya(hoax). Semua orang bertindak semau gue. Peran medsos mempersubur penyebaran berita hoax tersebut. Orang dengan mudahnya menyebarkan berita dari satu akun ke akun lainnya tanpa ada rasa takut mendapatkan sanksi hukum atas kelalaiannya. 

Kenapa ini terjadi? Masyarakat sudah bosan dengan situaasi yang dihadapinya. Sebagian masyarakat sudah terlalu resah ingin segera mengakhiri wabah ini. Tetapi banyak pula yang berlagak sok jagoan seolah ia kebal dengan virus ini. Akhirnya banyak yang bertindak selayak sesukanya, memberi resep-resep, jamu, obat, atau tip-tip yang sekiranya bisa mengobati orang yang terjangkiti virus ini. Ada yang bertindak seperti seorang pakar kesehatan, pakar ekonomi dan pakar sosial yang membuat statement-statement yang malah membuat masyarakat lebih bingung. Ada juga yang membuat konten-konten jenaka yang isinya sindiran, luapan kemarahan, kepanikan, dan juga pada ketidakmampuan mereka mengatasi pandemi ini. 

Lalu apa peran dari para Penggiat Literasi di masa pandemik ini? Apakah mereka ikut pada golongan yang memperkeruh kondisi atau yang meredahkan kepanikan? Atau apakah mereka justru tidak berbuat apa-apa? Tanyakanlah pada hati sendiri apa yang bisa kita sumbangkan untuk bangsa dalam kondisi ini. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Tentu saja lewat tulisan kita. Kita bangun opini yang sifatnya memberi kesejukan. Kita beri mereka tulisan yang mendidik. Kita beri pemahaman pada masyarakat bahwa negeri kita sedang diuji oleh Allah dengan sesuatu yang natural. Semua orang harus berbesar hati dan sabar, patuh pada anjuran pemerintah agar bencana ini segera berakhir. Tidak menulis sesuatu yang memperkeruh situasi, memicu kecemburuan sosial di masyarakat. Membuat konten-konten ajakan atau himbauan yang lebih mementingkan ikatan kerukunan sosial kebangsaan bukan malah membuat perpecahan. Memberi wawasan yang cerdas pada masyarakat untuk lebih banyak melakukan kegiatan di rumah untuk memperbaiki kualitas ibadah dan keperdulian dengan masyarakat sekitar. 

Kesulitan ekonomi selayaknya bukan menjadikan seseorang lebih mementingkan diri sendiri dengan cara menumpuk sembako di rumah karena ketakutan akan adanya masa karantina yang diperpanjang. Menghimbau masyarakat agar bertindak sewajarnya saja tidak berlebihan. Megingatkan masyarakat agar menengok tetangga kanan-kirinya jika membutuhkan pertolongan. Intinya tugas para pegiat literasi ialah membuat situasi dan kondisi nyaman dan aman di tengah-tengah masyarakat. Melalui tulisannya pegiat Literasi mampu menginspirasi dan mendidik masyarakat untuk bertindak lebih cerdas dan bijaksana. 

Sabtu, 28 Maret 2020

Corona Mempererat Ikatan Keluargaku

Corona Mengikat Erat Keluargaku

Wabah Corona sudah membuat gonjang ganjing di jagat maya, sehingga masyarakat menjadi bingung tidak karuan. Anjuran  untuk tinggal di rumah menjadi solusi terbaik  untuk menghentikan wabah ini.Sebagian orang paham, namun sebagian lainnya masih bingung terutama yang memiliki  mata pencaharian swasta kecil  atau pekerja harian lepas.

Aku memanfaatkan saat saat berharga ini di rumah dengan melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Selain mengajar muridku melalui Daring sebagai kegiatan utamaku, aku  bersama keluargaku, keluarga adikku,  kakakku semuanya, kita  berkumpul dirumah induk, rumah ibu. 

Kita semua bekerja  saling membantu  memasak, membuat  kue, mengaji, dan bernyanyi juga menceramahi anak anak dan keponakan yang masih kecil, kita bercengkerama bersama. Betapa hal ini  momen yang sangat berharga bagi keluargaku. Kita yang jarang sekali bekumpul, kecuali di saat hari Raya atau ketika ada hajatan keluarga. Kita selalu disibukkan oleh urusan keluarga masing. 
Aku  melihat wajah ibuku begitu bahagianya. Beliau memandangi wajah kita satu persatu, anak-anaknya, cucu-cucunya, juga cicit dan sanak keluarga lainnya. Betapa Corona ini menakutkan semua orang tapi juga merekatkan ikatan keluargaku sehingga ikatan yang semula longgar menjadi kuat dan tak mudah terpatahkan  oleh badai apapun itu.

Rabu, 10 April 2019

PENDIDIKAN DI ABAD MILENIA


MENGELOLA SISWA DI ABAD MILENIA
Dunia nyata anak abad 21
Anak anak jaman now kata orang memiliki kecenderungan serba cuek terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya. Mereka lebih enjoy dengan dunia mereka sendiri di bandingkan dengan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar atau dengan lingkungan dalam keluarganya sendiri.
Hal ini sebagai dampak dari kemajuan teknologi informasi dan technology digital yang semakin menghapuskan sendi sendi interaksi antar sosial kemasyarakatan dalam kanca pergaulan yang nyata.
Interaksi dan komunikasi orang tua terhadap  anak menjadi berkurang karena tuntutan ekonomi dan dunia kerja. Lepasnya ikatan interaksi didalam keluarga memberi indikasi lepasnya kontrol keluarga didalam perkembangan kepribadian anak. Banyak dari anggota keluarga yang  memiliki kesibukan dan kegiatan sendiri  sehingga hak hak anak terabaikan oleh orang tua.
Lemahnya kontrol keluarga tersebut terkadang dimanfaatkan oleh orang orang yang kurang bertanggung jawab.  Anak anak mencari atau menciptakan kesibukan sendiri dan lama kelamaan ini akan membentuk suatu kebiasaan. Pada akhirnya, mereka membentuk komunitas baru didalam kehidupan mereka yang sesuai dengan keinginan mereka tetapi kadang ini cenderung kearah negatif.
Inilah yang sangat dikuwatirkan, mereka bisa saja terjebak didalam kancah pergaulan yang negatif yang jauh dari pengawasan orang tua. Ataupun orang lain yang memanfaatkan keberadaan mereka demi kepentingan meraka sendiri. Narkoba, tren melukai tangan dengan silet ,pelacuran anak, bulying,  gang motor, sex bebas, LGBT atau bentuk kenakalan remaaja lainnya .
Bentuk bentuk perilaku yang menyimpang dari tatanan sosial tersebut saat ini dipermudah oleh sarana atau media yang serba canggih; medsos, gadzet dan bentuk bentuk aplikasi android lainnya yang jumlahnya tak terhitung banyaknya, dengan berbagai layanan aplikasi yang selalu baru dan cenderung menarik minat siswa. Tentu saja semua itu memberi dampak yang baik dan buruk  bagi anak atau siswa.
Masyarakat berpengaruh besar dan memiliki andil  terhadap  perubahan karakter social  para remaja. Ini bisa kita lihat dari banyaknya warung warung lesean yang dilengkapi dengan fasilitas wify berjejeran di sepanjang jalan, dipojok pojok gang sempit, kampung, maupun di kota kota. Sedemikian maraknya  pemakaian gadzet oleh semua kalangan sudah menjadi hal yang tidak asing lagi. Mereka terlihat konkow walaupun tentu saja mereka beralasan untuk bisnis, tetapi seringkali kita temui anak anak kecil usia sekolah dasar maupun menengah ada di tempat tempat seperti itu . Tentu saja itu bukan lingkungan yang tepat bagi mereka. Mareka nampak asyik sekali di tempat itu, berbaur dengan orang dewasa yang bukan keluarganya. Tidak ada lagi pengawasan dari orang tua tentang apa yang di mainkan dalam gatzetnya atau apapun. Kondisi sosial masyarakat yang seperti itu menampakkan ketidak perdulian dari masyarakat, aparat maupun para pemangku kekuasaan di wilayah atau daerah tersebut.
Sering kita dengar atau lihat  dibeberapa kota maupun daerah terlibat bentrok antar pelajar, kebrutalan perilaku pelajar terhadap guru maupun orang tua, kurangnya tata krama dan kesantunan terhadap orang yang lebih tua, membunuh teman sendiri karena hal yang sepele, mencuri, dan merampok kesemua itu merupakan bentuk kenakalan anak anak akibat dari dampak ketidak perdulian keluarga dan masyarakat sosial. Dan jeleknya adalah semua bentuk berita atau kejadian itu mudah saja di sebar melalui medsos tanpa adanya  filterisasi atau saringan terlebih dahulu. Siswa mudah saja meng-upload vidio , gambar , atau ujaran yang kurang pantas ,atau  yang gampang menyulut emosi orang banyak. Dan lebih aneh lagi mereka pun menirunya. Tidak heran, banyak siswa tidak berbahasa yang santun terhadap guru ataupun orang yang lebih tua. Mereka juga bersikap kurang sopan terhadap guru. Fenomena itu bagaikan membooming di seluruh negeri ini. Ada kesamaan sikap dan karakter siswa di seluruh siswa di sekolah ini. Inilah yang harus diwaspadai oleh para guru dan orang tua . Dan ini juga seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memikirkan pemecahannya. 
  Walaupun gejala kenakalan remaja tersebut tidak semua siswa melakukannya, tetapi dikhawatirkan hal ini akan menular pada siswa yang lainnya . Sekolah harus bertindak tegas terhadap kekeliruan karakter ini.Sekolah harus segera menegakkan aturan yang tegas terhadap kejanggalan  perilaku ini, tetapi sekolah juga butuh perlindungan hukum yang kuat dalam mengatasi permasalahan itu. Karena ada indikasi setiap ada permasalahan terhadap siswa pasti guru yang selalu di persalahkan. Inilah dilemah para guru disekolah, Bagaikan makan buah simalakama bertindak ini salah melakukan ini keliru.
Perubahan perilaku anak yang negatif mencerminkan polah asuh yang keliru dari orang tua terhadap anaknya. Pada kenyataannya, lingkungan sekitarjuga  ikut berperan besar dalam  memberi nuansa perubahan  perilaku anak. Baik buruknya keluarga dan masyarakat  sekitar memberikan  pengaruh baik dan buruknya perkembangan kepribadian anak.
 Pada akhirnya, sekolahlah yang menjadi tumpuhan orang tua untuk menitipkan putra putrinya dalam pengawasan  pendidikan putra putri mereka. Mereka menganggap sekolah  cukup mampu mewakili ketidakberdayaan mereka dalam mengurusi perkembangan perilaku dan kepribadian anak anak mereka.
Ini adalah anggapan dan pemahaman yang keliru dari sebagian orang tua terhadap sekolah. Mereka justru lebih banyak lepas tangan terhadap pendidikan perilaku dan karakter anak anak mereka. Pada hal karakter anak seharusnya terbentuk dari rumah mereka sendiri. Orng tuanyalah yang seharusnya membentuk karakter dan kepribadian mereka. Karena kita tahu orang tualah yang lebih banyak tahu latar belakang dan segala hal yang berkenaan dengan informasi tentang anak anak mereka sejak dari riwayat kehamilan ataupun sejak dari kelahirannya. Peran orang tua tidak tergantikan oleh siapapun ,baik guru,pengasuh ,ataupun sanak keluarga mereka. Hendaknya ini disadari betul oleh para orang tua.
Bagaimana seharusnya peran Sekolah?
Sekolah  saat ini lebih cenderung menjadi ibu asuh bagi siswa disekolah. Sekolah harus mampu  menyesuaikan program sekolah dengan kebutuhan siswa dan kesulitan para orang tua. Sekolah harus mampu mengantisipasi Fenomena Anak jaman Now yang serba cuek terhadap situasi dan kondisi  dan cenderung bersikap semau gue, mengabaikan norma kesopanan dan lebih suka melanggar tata  susila didalam masyarakat? Ini adalah tugas berat sekolah yang dalam hal ini tentu saja para pekerjaan bagi para guru. Sebagai agen of  change Karakter bagi siswa ,sekolah diharapkan mampu mengubah karakter siswa yang buruk menjadi berkarakter lebih baik. Ini tugas berat, dan tentu saja diperlukan kerja sama dari berbagai pihak,orang tua ,masyarakat,pemerintah,instansi terkait dan juga adanya payung hukum bagi guru untuk melindungi kerja guru dalam melaksanakan.
Tetapi haruslah selalu diingat bahwa tidak semuanya tugas mendidik anak harus diserahkan kepada sekolah. Tugas utama mendidik anak tetaplah di pundak para orang tua, sekolah hanyalah membantu dan memberi penguatan dalam menegakkan kedisiplinan dalam menaati peraturan yang bisa membawa anak anak menjadi manusia yang seperti diharapkan oleh orang tua yaitu menjadi manusia yang bermartabat dimata manuasia lain dan Tuhan.
Sekolah hanya membantu membentuk anak anak memiliki karakter karakter baik bagi anak didiknya. Sekolah menciptakan peraturan sekolah dan pembinaannya, agar ditaati oleh segenap anggota sekolah. Sekolah  menuntut setiap para siswanya  untuk taat, oleh karena itu berbagai jenis disiplin  diadakan. Tujuannya adalah untuk menciptakan ketertiban ,keteraturan,kenyamanan ketentraman bagi semua warga sekolah. Tetapi harus diingat bahwa Peraturan yang di buat sebisa mungkin  meningkatkan mental sehat  dan memberikan cukup kebebasan siswa untuk berbuat dan bertanggung jawab sesuai dengan kemampuan siswa itu sendiri. Pelaksanaan kedisplinan harus tanpa bulu dan tidak  memihak sebagian siswa maupun guru. Jangan sampai ada siswa yang merasa dikucilkan dan di benci. Sehingga timbul rasa ketidak adilan dan kesewenang wenangan diantara mereka. Yang pada akhirnya menimbulkan rasa dendam dan sikap emosional .
Di rumah, seharusnya orang tua juga menerapkan kedisiplinan yang sama, sehingga apa yang di terapkan di sekolah sinkron dengan yang diterapkan di rumah. Dalam hal ini dibutuhkan komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan orang tua. Jika di sekolah dan dirumah  anak membiasakan hal hal yang baik dalam  melakukan pembiasaan kedisiplinan, menegakkan peraturan, dan menciptakan rasa kasih sayang akan mewujudkan kesempatan kepada anak untuk berkembang  dan berbuat sesuai dengan kemampuannya, bahkan akan berkembang  menjadi disiplin diri (self discipline) yang didasari rasa keikhlasan yang untuk patuh dan taat terhadap peraturan. Disiplin diri harus dibentuk melalui:
1.      Hubungan emosional yang kondusif antara guru dan siswa dan orang tua.
2.      Adanya contoh keteladanan dari para guru dan orang tua.Pengembangan disiplin adalah penataan lingkungan yang match dengan kondisi anak.
3.      Menciptakan lingkungan sekolah yang cocok dengan kebutuhan siswa.
4.      Adanya saling ketergantungan satu sama lain dalam berintraksi
5.      Guru serta orang tua memiliki wibawa dalam penerapannya.
Kalau senua pihak di lingkungan berperan sesuai dengan peranannya masing masing maka sekolah sebagai agen of change karakter siswa akan  mampu mengubah perilaku karakter yang buruk menjadi lebih baik akan berhasil.


Minggu, 10 Februari 2019

testimony menulis




           Ingin serius menulis? Ikuti program  KJB (Kelas Jadi Buku) . Sebuah kelas  program kepenulisan yang memberikan pelatihan menulis bagi para penulis baru atau yang senior yang ingin mutu menulisnya semakin berkibar di seantereo jagat.Dengan ikut program ini kita bisa belajar ,berlatih menulis dan berdiskusi dengan sesama penulis dan calon penulis dengan di pandu oleh para pakar penulis terkenal.Bergabung di sini memberi peserta  pemahaman dan tuntunan tentang  dunia tulis menulis.Peserta akan  semakin memahami apa saja  tugasnya sebagai  penulis dan apa tujuannya menulis.Disini para peserta bertemu dengan banyak penulis dari berbagi daerah diseluruh Indonesia walaupun mereka berasal  dari  berbagai  macam profesi.Mereka  bisa sharing ide ide dan pengetahuan seputar menulis.
               Mereka juga  bisa menjadi akrap walaupun berbeda profesi dan latar belakang .Tetapi para peserta  disatukan oleh tujuan yang sama yaitu belajar menjadi penulis beneran.Didalam program, ada yang disebut KMO (Kelas Menulis Online).Semua peserta di kelompok kelompokkan menjadi beberapa kelas .Masing masing kelas saling berdiskusi tentang materi atau tema yang sudah di tetapkan bersama. Dan setiap kelas ada Pj (penanggung Jawabnya ).Peserta juga bisa saling berkomunikasi dengan para pemandu untuk bertanya atau minta petunjuk tentang menulis.Hari ini adalah deadline terakhir mengumpulkan tugas pertama, yaitu menulis testimony tentang KJB.Sayang sekali hpku agak rewel padahal  ini jam sudah menunjuk angka 19.47 aku belum juga menyelesaikan testimoniku.Tinggal beberapa kata saja yang harus ku ketik.Tetapi aku belum bisa membuka hpku untuk mencari tahu tentang program ini leibh lanjut.